5.  BERAKHLAK MULIA DAN TERPUJI

Tidak diragukan bahwa kata yang baik dan tutur bahasa yang bagus mampu memberikan pengaruh di jiwa, mendamaikan hati, serta menghilangkan dengki dan dendam dari dada Demikian juga raut wajah yang tampak dari seorang pengajar ia mampu menciptakan umpan balik positif atau negatif pada siswa, karena wajah yang riang dan berseri merupakan sesuatu yang disenangi dan disukai jiwa. Adapun bermuka masam dan mengernyitkan dahi adalah sesuatu yang tidak disukai dan diingkari jiwa.

Rasulullah saw adalah sosok vang paling suci dari segi ruh dan jiwa. Beliau adalah manusia vang paling agung akhlaknya, (karena itu Allah memuji beliau).

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ ))

”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”( Al-Qalam : 4).

Beliau bukanlah sosok yang bersikap keras lagi berhati kotor, dan tidak pula berlaku ekstrim, melainkan beliau adalah sosok yang ramah, lemah lembut, dan penuh kasih sayang.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَيتُمْحَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنَ رؤوف رحيم .

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dan kaum kalan sendiri berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin” (At-Taubah: 128).

Dan Dia juga berfirman,

فَمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْحولك

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran: 159).

1). Dari Atha bin Yasar, dia berkata, Saya bertemu Abdullah bin Amr bin al-Ash RA saya berkata, “Ceritakan padaku tentang karakter Rasulullah di dalam Taurat. ” Dia berkata, Ya, demi Allah, sungguh, di dalam taurat beliau disifatkan dengan sebagian karakter beliau yang disebutkan di dalam al-Qur’an, ‘Wahai nabi, sesungguhnya sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pemberi kabar serta pemberi peringatan,‘ juga pengayom bagi kaum yang tidak baca tulis. Kamu adalah hamba ku dan Rosulku. Aku namai kamu dengan al-Mutawakkil, tidak keras dan juga tidak kasar, tidak suka berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memberi manfaat dan bersikap lapang’. Allah tidak akan mewafatkan beliau hingga Dia meluruskan agama yang bengkok dengan beliau, sampa mereka mengucapkan La Ilaha Illallah, serta sampai Dia membuka mata-mata yang buta dengan beliau, juga telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang lalai”.

 

Itulah sebagian karakter Nabi saw, akhlak-akhlak yang agung, kasih dan sayang kepada orang-orang beriman, tidak kasar. adak berhati keras dan seterusnya. Karakter-karakter tersebut harus ada di dalam dakwah, karena orang-orang yang didakwahi butuh kepada orang yang bersikap lembut kepada mereka serta mengajari mereka perkara agama mereka. Di antara mereka ada yang jahil, ada yang masih kecil, dan ada yang lanjut usia Kesemua mereka itu butuh sifat lembut, santun, sabar, bijak, ramah dan perlakuan baik. Kalau tidak, niscaya mereka akan menjauh, murka, dan tidak mengikuti hidayah dari orang yang membawanya. Rasul kita yang mulia-bapak dan ibuku sebagai tebusan beliau telah membuat permisalan yang paling indah dalam berakhlak baik Bagaimana tidak, Allah yang telah merekomendasikannya dengan hal itu,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ )

“Dan sungguh kamu benar-benar berbudi pekert yang agung (Al-Qalam: 4).

Dan Aisyah Ummul Mukminin RA, beliau mengatakan.

“Akhlak beliau adalah al-Quran”.

Kemarilah bersama kami untuk melihat sikap Rasulullah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,

2). Anas bertutur “Saya pernah berjalan bersama Nabi saw sementara beliau mengenakan selimut Najran yang bagian urungnya agak kasar Tiba-tiba beliau dikejar oleh seorang badui lalu menarik selimut beliau dengan keras hingga saya dapat melihat permukaan pundak Rasulullah lecet oleh ujung selimut tersebut akibat keras tarikannya. Dia berkata, Wahai Muhammad perintahkan (kepada mereka) agar saya diberikan dari harta Allah yang ada padamu. Rasulullah menoleh dan tertawa lalu menyuruh sahabatnya supaya dia diberikan pesangon”.

Betapa agungnya akhlak mulia tersebut yang menjadi keistimewaan Nabi Padahal, bisa saja beliau menghukum badui tersebut lantaran perlakuan buruknya, akan tetapi hal itu bukanlah karakter dan akhlak seorang guru besar Bagaimana beliau akan melakukannya, padahal beliau sendiri yang mengatakan,

من كظم غيظا وهو يَقْدِرُ أن ينقده، دعاه الله على رؤوس الخلائق يوم القيامة، حتى بحيره في أَي الْحُور العين شاء

“Barangsiapa meredam amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada Hari Kiamat hingga memberinya pilihan bidadari mana yang dia sukai”

Selayaknya para pendidik dan pengajar meniti jalan Rasulullah saw guru besar dalam menghias diri dengan akhlak mulia dan adab tinggi, dan merupakan media paling sukses di dalam mengajar dan mendidik, di mana siswa pada umumnya akan terdorong dan berakhlak dengan akhlak gurunya dan lebih banyak mau menerima darinya dari pada yang lain. Apabila seorang pengajar berakhlak dengan akhlak yang terpuji, hal itu akan memberikan pengaruh positif terhadap siswanya, serta akan memberikan reaksi di dalam jiwanya lebih dan reaksi yang diberikan dengan puluhan nasihat dan pelajaran. Dari sini kita dapat memahami rahasia sabda beliau Rasulullah saw.

ما من شيء في الميزان أثقل من حسن الخلق.

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan dari pade akhlak yang baik. “

Serta sabda beliau

إن الرجل ليدرك بخس حلقه درجات قائم الليل وصائم النهار

“Sesungguhnya seseorang dengan akhlak baik mampu menyamai derajat-derajat orang yang shalat sunnah malam dan berpuasa di siang hari. “

Karena akhlak baik adalah perangai yang bekerja seperti sihir di dalam memikat hati, menarik jiwa, dan menebar rasa cinta di antara pribadi masyarakat dan para pengajar adalah orang yang paling utama untuk hal itu.

Kesimpulan:

Akhlak adalah sifat terpuji yang mesti bagi guru untuk berhias dengannya serta menganjurkan para anak didiknya untuk berakhlak dengannya.

Kata yang baik, muka riang, dan ceria termasuk di antara sebab vang akan menghilangkan jarak antara guru dan siswanya.

Sabar dan bijaksana serta sikap lapang dada seorang pendidikan ketika menghadapi kejahilan siswa.

6). TAWADHU’ (RENDAH HATI)

Tawadhu’ adalah akhlak terpuji yang akan menambah kehormatan dan wibawa pada pemiliknya, dan barangsiapa beranggapan bahwa tawadhu’ adalah perangai rendah yang mesti dijauhi dan ditinggalkan, maka dia telah salah dan jauh dari harapan, dan cukuplah bagimu imam orang-orang yang bertakwa yakni Nabi sebagai contoh. Tawadhu’, walaupun salah satu bentuk merendahkan diri, hal itu jika di sisi Allah, maka betapa nikmat dan lezatnya, karena ubudiyah tidak akan terealisasi dan tidak akan sempurna kecuali dengan sikap merendahkan diri kepada Allah serta tunduk di hadapanNya. Adapun sikap merendah yang dilakukan di sisi makhluk, maka hal itu khusus hanya pada orang-orang Mukmin saja. Allah SWT berfirman,

يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ، فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجْتَهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَا بِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ )

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha luas (pemberiannya)dan lagi maha mengetahui”.(Al-maidah;54).

Mereka itu bersikap merendah kepada orang-orang yang beriman, karena kecintaan, ketulusan, kelemah lembutan, murah hati, dan kasih sayang mereka kepada kaum Mukminin. Guru sangat butuh untuk berakhlak dengan akhlak agung ini, karena merupakan bentuk perealisasian “meneladani” penghulu para rasul dan karena adanya manfaat agung bagi para murid.

Jika seorang Muslim memerlukan sikap tawadhu’ supaya sukses dalam hubungan vertikalnya dengan Allah, kemudian hubungan horizontalnya dengan masyarakat, maka tingkat kebutuhan seorang guru kepadanya lebih tinggi dan lebih kuat,, karena profesinya yang bersifat ilmu, pengajaran, dan pengarahan mengharuskan adanya komunikasi dengan anak didik dan dekat dengan mereka, sehingga mereka tidak merasa sungkan bertanya dan berdiskusi serta curhat kepadanya, karena jiwa tidak akan merasa nyaman kepada orang yang sombong atau diktator atau yang menyombongkan ilmunya.

Berikut kami ketengahkan untuk Anda sebagian contoh tawadhu’ beliau :

1). Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَايَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seseorang yang membang gakan dirinya terhadap yang lain, dan tidak ada seseorang yang menzhalimi yang lain.

Dari Anas, beliau bertutur,

“Salah seorang budak wanita kota Madinah pernah mengambil tangan Nabi lalu membawa beliau pergi kemana dia suka, “

3). Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda,

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ، قَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيْطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ.

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia menggembala kambing.” Para sahabatnya bertanya, “Dan Anda?” Beliau menjawab, “Ya, dahulu saya juga menggembala kambing penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath. “

4). Juga dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda,

لَوْ دُعِيْتُ إِلَى كُرَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ لَأَجَبْتُ، وَلَوْ أَهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْكُرَاعٌ لَقَبِلْتُ.

“Seandainya aku diundang untuk makan pergelangan atau lengan (kambing yang paling sedikit dagingnya sekalipun) niscaya akan kupenuhi, dan seandainya dihadiahkan kepadaku lengan atau pergelangan (kaki kambing) niscaya kuterima.”

5). Dari Qais bin Mas’ud, bahwa seorang laki-laki berbicara kepada Rasulullah pada hari Fathu Makkah dengan gemetar, maka Nabi bersabda,

هَوَنْ عَلَيْكَ، فَإِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَأْكُلُ الْقَدِيْدَ.

“Tenang sajalah, sesungguhnya aku hanya anak dari seorang perempuan Quraisy yang memakan dendeng!”

Dan sikap tawadhu’ beliau mencapai puncaknya ketika Fathu Makkah:

6). Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakar bercerita kepadaku, “…Rasulullah menundukkan kepala beliau sebagai bentuk ketawadhu’an kepada Allah manakala melihat kemenangan yang dengannya Allah memuliakan beliau sampai jenggotnya hampir-hampir menyentuh pelana hewan tunggangannya.”

Al-Hafizh al-Baihaqi juga meriwayatkan, dari Anas, beliau berkata, “Rasulullah Saw masuk ke Makkah pada Hari Penaklukan Kota Makkah sementara dagu beliau menyentuh hewan tunggangannya dengan penuh khusyu’. Apakah Anda pernah melihat sikap tawadhu’ yang lebih agung dari itu? Seorang panglima mengalahkan musuhnya yang telah mengusirnya keluar dari negerinya, memeranginya, mencercanya… kemudian dia berhasil menaklukkan mereka dan masuk ke dalam benteng pertahanan mereka sebagai orang yang menang, namun demikian beliau menundukkan kepalanya ketika menang atas musuhnya sebagai bentuk tawadhu’ dan tanda syukur kepada Allah. Betapa agungnya beliau sebagai panglima, dan betapa mulianya beliau seba gai murabbi (pendidik)!

Tawadhu’ adalah lawan dari takabbur, yaitu perangai tercela yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya.

Di antara efek negatif dari sikap takabbur yang menimpa sebagian guru di masyarakat Islam adalah:

  1. Penolakannya terhadap kebenaran dan tidak tunduk kepadanya.
  2. Sombong dengan ilmu yang dimilikinya, padahal hanya sedikit.
  3. Meninggalkan menuntut ilmu karena menyangka bahwa dirinya telah mengetahui dan memahami segala sesuatu.

Kemudian, guru yang sombong tidak akan mampu meraih tujuan dari mengajar, dan sifat takabburnya tidak akan memperkenankannya untuk mengetahui apa yang terwujud di antara tujuan-tujuan tersebut, karena dia tidak bergaul dan dekat dengan siswanya sehingga mampu mengetahui problematika mereka dan apa yang merintangi mereka dari mencapai tujuan- tujuan pendidikan yang telah dirumuskan serta apa yang dibutuhkannya berupa evaluasi metode pengajaran serta sistematika dan penyajian pelajaran dan lain sebagainya. Sebagaimana siswa tidak merasa nyaman kepada guru yang angkuh dan sombong, perasaan dan indra mereka pun tidak membenarkannya, begitu juga dalam kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, yang menjadikan faidah yang diperoleh dari guru seperti ini sangatlah sedikit sekali.”

Kesimpulan:

Pengaruh sikap tawadhu’ tidak terbatas pada guru, akan tetapi memantul kepada anak didik dan memberikan efek pada mereka secara positif.

Tawadhu’ adalah salah satu sebab dalam menghilangkan adanya jarak antara guru dan anak didiknya.

Takabbur menyebabkan jauhnya siswa dari guru mereka serta berpaling dari menimba ilmu darinya.

Sesuai dengan dekatnya siswa dengan gurunya, siswa akan memperoleh ilmu dalam bentuk yang lebih baik; dan sikap tawadhu’ akan mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *