13. MENGGUNAKAN METODE PENGULANGAN DALAM MENGAJAR
Menggunakan metode pengulangan dalam mengajar memiliki banayk faidah dan manfaat yang sangat besar. Di antaranya memberi penekanan terhadap permasalahan yang penting atau hukum yang penting; menegur siswa yang malas dan yang terjangkit kantuk dan semisalnya; menghafal sesuatu yang di ulang-ulang.
Mengulang tiga kali adalah perbuatan yang sering terjadi di dalam hadits-hadit al-Mushthafa ﷺ. Ibn at-Tin berkata, “Di dalamnya terkandung petunjuk bahwa hitungan tiga merupakan batas dimakluminya kesalahan yang terjadi dan penjelasannya.” Barangsiapa yang memperhatikan hal itu, niscaya dia akan menemukannya persis sebagaimana yang dia katakan. Dan kadang lebih dari tiga kali untuk suatu kebutuhan, sebagaimana yang akan Anda lihat dari sabda Rasulullah ﷺ yang akan datang. Pengulungan adakalanya terjadi pada kata dan kalimat, dan adakalanya terjadi pada nama, juga adakalanya terjadi pada selain keduanya.
Pertama: Pengulangan kata-kata
1). Dari Anas bin Malik , dari Nabi ﷺ
.أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا
“Bahwa beliau jika berbicara dengan sebuah kata, maka beliau mengulangnya sebanyak tiga kali sampai dapat dipahami. Dan jika beliau datang kepada suatu kaum, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka, maka beliau mengucapkan salam itu kepada mereka tiga kali.”
Dan dalam riwayat at-Tirmidzi dari hadits Anas ,
.كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ يُعِيْدُ الْكَلِمَةَ ثَلَاثًا لِتُعْقَلَ عَنْهُ
“Rasulullah ﷺ mengulang-ulang ‘kata’ sebanyak tiga kali agar dapat dipahami darinya.”
Al-Mubarakfuri berkata, “Maksudnya, bahwa beliau ﷺ pernah mnegulang perkataannya tiga kali ketika kondisinya menuntut itu, karena sulitnya (pemahaman) maknanya atau keasingannya atau banyaknya orang-orang yang mendengar; beliau melakukannya tidak secara terus-menerus, karena mengulang perkataan tanpa ada kebutuhan untuk mengulangnya bukanlah termasuk balaghah sama sekali. Demikian disebutkan dalam Syarh asy-Syama’il karya al-Baijuri. Perkataannya, (لِتُعْقَلَ عَنْهُ) ‘Agar dapat dipahami darinya’, dengan kalimat pasif, maksudnya agar kata tersebut dapat dipahami dari beliau ﷺ.”
2). Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya , dia berkata, Nabi ﷺ bersabda,
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ. قَالَ : اَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ- وَجَلَسَ
.وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ-: أَلَا وَقَوْلُ الزُّوْرِ. قَالَ : فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ
“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” (Tiga kali). Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orangtua,” –kemudian beliau duduk (tegak) setelah sebelumnya beliau bersandar, kemudian beliau bersabda–, “Ketahuilah, dan kesaksian palsu.” Dia (perawi) berkata, “Beliau terus mengulang-ulanginya sehingga kami berkata, ‘Semoga saja beliau diam’.”
Al-Hafizh menerangkan pada perkataannya, “Tiga kali”, “Maksudnya beliau mengucapkan hal itu kepada mereka sebanyak tiga kali, dan beliau mengulag-ulanginya sebagai bentuk penekanan untuk menggugah perhatian pendengar supaya menghadirkan pemahamannya.”
3). Contoh yang lain, kisah Usamah bin Zaid bin Haritsah bersama Nabi ﷺ, ketika dia membunuh orang yang mengucapkan la ilaha illallah di suatu peperangan karena mentakwil (hukumnya). Usamah berkata, ketika kami pulang, berita itu telah sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda kepadaku,
يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَمَا قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ؟ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، إِنَّهُ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا؛
قَالَ: قَتَلْتَهُ بَعْدَمَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَتَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ
.أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ
“Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setalah dia mengucapkan la ilaha illallah?” Usamah berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mengucapkannya untuk melindungi diri (bukan masuk Islam dengan tulus)’.” Beliau bersabda, “Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan La ilaha illallah?” Usamah berkata, “Beliau terus mengulang-ulanginya terhadapku sehingga aku berangan-angan seandainya aku belum menyatakan Islam sebelum hari itu (lalu aku bisa masuk Islam pada hari itu sehingga dosaku dihapuskan oleh Allah dengan keislamanku tersebut).”
Al-Qurthubi menerangkan, “Di dalam pengulangan beliau terhadap hal itu dan penolakan beliau dari menerima permohonan maaf tersebut terkandung larangan keras untuk lancang melakukan pembunuhan yang seperti itu.”
Kedua: Pengulangan nama
1). Dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ bersabda –dan beliau membonceng Mu’adz di atas kendaraannya–,
يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ. قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ : يَا مُعَاذُ. قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ. ثَلَاثًا. قَالَ : مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا أَخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوْا؟
.قَالَ : إِذًا يَتَّكِلُوْا، وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَ ثُّمًا
“Wahai Mu’adz bin Jabal!” Dia berkata, “Saya penuhi panggilanmu wahai Rasulullah dengan penuh kebahagiaan.” Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz!” Dia menjawab, “Saya penuhi panggilanmu wahai Rasulullah dengan penuh kebahagiaan.” (Tiga kali). Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dengan jujur dari dalam hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkannya masuk neraka.” Dia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah aku boleh memberitahukan kepada manusia sehingga mereka bisa bergembira?” Beliau berkata, “Kalau (kamu memberitahukan mereka), niscaya mereka akan berpangku tangan.” Lalu Mu’adz mengabarkannya pada saat (Mu’adz menjelang) kematiannya karena khawatir terjatuh pada dosa (menyembunyikan ilmu).”
Dalam hadits ini dapat kita perhatikan bahwa pengulangan panggilan Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal itu sebanyak tiga kali, dan rahasia dalam hal itu adalah, –wallahu a’lam–, mempersiapkan Mu’adz untuk menerima berita besar yang akan dia emban, dan yang menunjukkan kepada Anda akan hal itu adalah perkataan Mu’adz dalam hadits tersebut, “Tidakkah aku boleh memberitahukan kepada manusia sehingga mereka bisa bergembira?” Di dalam perkataannya itu terdapat indikasi jelas atas agungnya hadits ini serta kedudukannya yang mulia, karena terdapat berita gembira yang agung yang terkandung di dalamnya.
Kita keluar dari hadits ini, bahwa guru jika hendak melontarkan berita penting kepada salah seorang siswanya, hendaknya memanggil dengan namanya sebanyak tiga kali, baru kemudian menyampaikan berita tersebut kepadanya. Dan silahkan analogikan kepada hal itu, jika mereka adalah sekelompok orang, maka dia bisa memanggil dengan nama yang menyatukan mereka, seperti mengatakan, wahai siswa-siswa (sebanyak tiga kali) dan semisal.
Kesimpulan:
1. Mengulang sampai tiga kali adalah batas puncak yang penjelasan bisa diperoleh dengannya, akan tetapi terkadang bisa ditambah lebih dari itu sesuai kebutuhan.
2. Pengulangan adalah sarana efektif untuk menghafal pelajaran dan untuk memfokuskan kepada poin yang penting.
3. Mengulang nama menjadikan orang yang dipanggil bersiap untuk menerima berita.
14. MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI DALAM MENGAJAR
Metode ini sangat langka ditemukan pada kalangan guru; sedikit sekali mereka yang menggunakannya di tengah-tengah penyampaian materi pelajaran. Yang saya maksudkan dengan metode klasifikasi adalah, guru terlebih dahulu mempelajari materi pelajaran yang hendak disampaikan kepada siswa kemudian mengklasifikasikannya menjadi bebrapa bagian atau urutan atau kelompok atau beberapa poin –silahkan Anda menamakannya sesuai selera Anda– baru kemudian menyajikannya kepada siswa. Tidak samar lagi bagi kita akan adanya faidah besar yang dikandung oleh metode ini bagi siswa, karena metode ini menjadikan siswa menguasai pembahasan dari semua sisi dan sudutnya, serta menjadikannya mampu menghafal pelajaran dan menguasainya dengan cepat, di samping menjaga dan memelihara pelajaran dari kelupaan. Jika siswa lupa sebagian pelajaran kemudian ingat bahwa jumlahnya sekian atau –bagian– bagiannya sekian, maka hal itu akan membantunya mengembalikan pelajaran yang hilang. Barangkali orang yang membaca buku-buku fikih akan melihat berbagai macam bentuk klasifikasi; ada syarat-syarat, wajib-wajib, rukun-rukun, larangan-larangan, dan seterusnya. Semua bentuk klasifikasi ini tidak pernah di tunjukkan oleh satu nash pun dari Nabi yang ma’shum, ﷺ, ia hanyalah semata diciptakan oleh para ahli ilmu dan ahli fikih , untuk mendekatkan pemahaman ilmu bagi para penuntutnya, menghimpun materi-materinya, dan menyatukan bagian-bagiannya sehingga mudah bagi para pembacanya untuk menghafal dan memuraja’ahnya.
Nabi ﷺ pernah melakukan hal seperti itu:
1). Dari Abu Hurairah , dari Nabi ﷺ beliau bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ : اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ
.طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
”Tujuh kelompok orang yang akan dinaungi Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabbnya, laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang laki-laki yang saling mencinta di jalan Allah; berkumpul karenaNya dan berpisah karenaNya, laki-laki yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik lalu mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah,’ laki-laki yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan lkai-laki yang mengingat Allah seorang diri lalu kedua matanya berlinang air mata.”
2). Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash , Nabi ﷺ bersabda,
,أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا, وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
.وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ, وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat perkara yang barangsiapa keempat perkara itu ada padanya, maka dia adalah seorang munafik yang murni, dan barangsiapa yang ada padanya satu sifat darinya, maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai akhirnya dia meninggalkannya: Jika dipercaya niscaya dia berkhianat, jika berbicara niscaya dia berdusta, jika berjanji niscaya dia melanggar, dan jika dia memusuhi niscaya dia melampaui batas.”
Hadits-hadits dari Nabi ﷺ dalam hal itu sangat banyak sekali; seandainya kita hitung sebagiannya, tentu akan memakan banyak tempat, dan apa yang telah kita sebutkan, insya Allah mencukupi dan mewakili.
Kemudian jika kita merincikan perhatian pada hadits Nabi ﷺ, niscaya akan kita temukan bahwa Nabi ﷺ menyebutkan jumlah secara global terdahulu, baru kemudian menyebutkan dengan terperinci. Tidak diragukan lagi bahwa metode ini lebih menarik hati dan lebih bagus dari segi penataan dan penyajiannya. Para guru semestinya menempuh metode ini, jika mereka ingin memudahkan transfer ilmu dan membuatnya sederhana bagi siswa-siswa mereka.
Kesimpulan:
1. Metode klasifikasi membantu menghafal pelajaran dan menjaganya dari lupa.
2. Metode ini menuntut kecermatan dan kepintaran guru.
3. Disarankan ketika menggunakan metode ini, agar terlebih dahulu menggunakan cara menyebutkan secara global, baru kemudian masuk kepada perincian.
15. MENGGUNAKAN METODE TANYA JAWAB PADA SAAT MENGAJAR
Untuk menarik perhatian siswa, guru memerlukan sarana yang beraneka dan metode yang beragam. Guru harus memvariasikan antara sarana-sarana tersebut seupaya siswa tidak gemar dengan satu metode tertentu, lalu terbiasa dengannya kemudian hal itu tidak memberikan kesan dan pengaruh padanya, dengan dasar hukum kebiasaan. Di antara sarana menarik perhatian yang dibutuhkan guru adalah menggunakan metode pertanyaan di awal pembicaraan atau di tengah-tengah pembicaraan, untuk menarik perhatian siswa dan memotivasinya untuk menghadirkan pikiran. Hal tersebut diperjelas oleh hadits Muttafaq ‘alaihi.
1). Rasulullah ﷺ bersabda,
…..أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ
“Maukah kalian aku beritakan dosa besar yang paling besar?” Kami (para sahabat) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orangtua, … (dan seterusnya).”
Ungkapan (الا) “Maukah” adalah kata tanya yang berfungsi untuk mengingatkan dan memberikan motivasi untuk menangkap apa yang disampaikan dan memahaminya sesuai dengan yang wajah esensinya.
2). Dalam khutbah Nabi ﷺ di Mina pada Haji Wada’, beliau ﷺ bersabda,
.أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ فَسَكَتْنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِيْهِ سِوَى اسْمِهِ. قَالَ : أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا : بَلَى. قَالَلا: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ فَسَكَتْنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ
,فَقَالَ : أَلَيْسَ بِذِى الْحِجَّةِ؟ قُلْنَا : بَلَى. قَالَ : فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا
….فِي شَهْرِكُمْ هَذَا, فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Hari apakah ini?” Kami pun diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya. Beliau bersabda, “Bukankah hari an-Nahr (menyembelih)?” Kami menjawab, “Ya, benar.” Beliau berkata, “Lalu bulan apakah ini?” Kami pun diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya. Beliau bersabda, “Bukankah Dzul Hijjah?” Kami menjawab, “Ya, benar.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram di antara kalian seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini … (dan seterusnya).”
Al-Qurthubi berkata, “Pertanyaan beliau ﷺ tentang tiga perkara tersebut serta diamnya beliau setelah setiap pertanyaan, adalah untuk menghadirkan pemahaman mereka, dan agar mereka menghadapkan diri mereka kepadanya secara total, serta supaya mereka dapat merasakan agungnya apa yang disampaikan kepada mereka. Oleh karena itu, beliau bersabda setelah itu, “Sesungguhnya darah kalian … (dan seterusnya),” untuk membesarkan pengharaman perkara-perkara ini.
3). Dari Abu Hurairah bahwa para sahabat bertanya,
يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : هَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ؟ قَالُوْا : لَا ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا : لَا ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذٰلِكَ، يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُوْلُ
…..مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ
“Wahai Rasulullah ﷺ, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari Kiamat?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat bulan di malam purnama?” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihatNya seperti yang demikian itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman, “Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah mengikutinya … (dan seterusnya)’.”
Dapat diperhatikan dalam contoh-contoh tersebut, bahwa Rasulullah ﷺ tidak menunjuk orang tertentu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan, akan tetapi ungkapan-ungkapan beliau pada umumnya menggunakan bentuk jamak secara umum. Ini memberi kita pelajaran bahwa guru semestinya melontarkan pertanyaan terlebih dahulu, agar para siswa secara keseluruhan ikut ambil bagian dalam menemukan jawaban bagi pertanyaan yang dilontarkan tersebut. Kemudian dianjurkan bagi guru agar memberikan waktu yang cukup sebelum mulai mendengar jawaban siswa, yang demikian itu karena kemampuan akal siswa berbeda-beda dan tidak sama satu dengan yang lainnya; sebagian mereka ada yang cepat dan sebagian lagi ada yang lebih lambat menghadirkan akalnya. Dengan ini tampaklah bagi Anda kesalahan yang dilakukan sebagian guru, yaitu memberikan pertanyaan kepada siswa sesuai urutan absensi atau sesuai urutan tempat duduk mereka di dalam kelas, karena metode ini menjadikan siswa lain yang tidak mendapatkan begian, tidak merasa ikut terbebani dengan beban mencari jawaban, karena merasa cukup (dihadapi) oleh siswa yang ditunjuk oleh guru. Ya, adakalanya guru bertanya kepada sebagian siswanya dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti guru bermaksud mengejutkan siswa tertentu untuk mneguji konsisinya atau mengingatkannya dari kelalaiannya dan semisalnya.
Telah datang keterangan bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada sebagian sahabat dalam beberapa masalah yang berbeda, dan ini posisinya ketika Nabi ﷺ seorang diri bersama sahabat tersebut sebagaimana telah datang keterangan dalam hadits Mu’adz tersebut.
4). Dari Anas bin Malik , bahwa Nabi ﷺ berkata –dan Mu’adz di belakang beliau di atas kendaraan (keledai)–,
…..: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ! قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ : يَا مُعَاذُ. قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ. ثَلَاثًا. قَالَ
“Wahai Mu’adz bin Jabal!” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu dengan bahagia wahai Rasulullah.” Beliau berkata lagi, “Wahai Mu’adz!” Dia menjawab, “Aku penuhi panggilanmu dengan bahagia wahai Rasulullah,” (tiga kali). Beliau bersabda, ….
Kesimpulan:
1. Metode pertanyaan adalah metode yang sangat efektif untuk menarik perhatian pendengar dan mempersiapkannya untuk menerima apa yang disampaikan kepadanya.
2. Adakalanya pertanyaan dilontarkan di awal pelajaran dan bisa juga di tengah-tengahnya, sesuai dengan tuntutan kebutuhan.
3. Hendaknya guru melontarkan pertanyaan kepada para siswanya untuk menghadirkan jawaban, kemudian baru menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan tersebut.
4. Tidak menunjuk siswa tertentu sebelum melontarkan pertanyaan, karena itu akan menghilangkan keikutsertaan aktifitas otak siswa-siswa yang lain karena mencukupkan diri dengan teman mereka yang ditunjuk.
5. Guru hendaknya menunjuk siswa tertentu sebelum melontarkan pertanyaan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika guru hendak mengetahui kemampuan siswa menjawab dengan cepat, atau mengingatkan siswa dari kelalaian atau tidur dan semisalnya, akan tetapi jangan sampai guru menjadikan cara ini sebagai kebiasaannya.
16. MELONTARKAN BEBERAPA PERMASALAHAN ILMIAH YANG PENTING UNTUK MENGUJI KEMAMPUAN OTAK SISWA
Melontarkan beberapa permasalahan untuk mneguji siswa secara umum memiliki faidah besar dalam mengembangkan pengetahuan dan memantapkan pemahaman. Metode paling baik untuk menggunakannya adalah guru melontarkan masalah dalam bentuk kolektif, dan memberi sedikit waktu untuk mengingat-ingat pelajaran (yang telah lalu) dan memikirkan masalah tersebut, kemudian meninggalkan jawaban pertanyaan yang dilontarkan untuk (dijawab) siswa. Dan as-Sunnah penuh dengan jenis ilmu seperti ini:
1). Dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar , dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
: إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُوْنِي مَا هِيَ؟ قَالَ : فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي. قَالَ عَبْدُ اللهِ
.وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ, فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا : حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُوْلَ. اللهِ؟ قَالَ : هِيَ النَّخْلَةُ
“Di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya dan dia seperti seorang Muslim, beritahukan kepadaku pohon apakah itu?” Maka orang-orang langsung teringat pada jenis pohon yang ada di pedalaman. Abdullah berkata, “Maka terbetik di hatiku bahwa pohon itu adalah kurma, namun aku merasa malu (untuk menyampaikannya).” Kemudian mereka berkata, “Beritahukan kepada kami pohon apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ia adalah pohon kurma.”
Al-Baghawi berkata, “Al-imam berkata, ‘Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa diperbolehkan bagi guru untuk melontarkan permasalahan kepada para siswanya yang dia pergunakan untuk menguji kemampuan ilmu mereka’.”
Ibnu Hajar berkata, “Di dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran… yaitu guru menguji kemampuan otak siswa dengan sesuatu yang samar disertai penjelasan untuk mereka jika mereka tidak memahaminya, … di dalamnya juga terdapat motivasi untuk memahami ilmu.”
Hendaknya guru selektif dalam memilih soal-soal yang dilontarkan kepada para siswanya. Demikian juga dia bisa memperkenankan diskusi dan mengajukan pendapat di antara para siswa. Tidakkah Anda melihat perkataannya, (فَوْقَعَ ا لنَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي) “Maka orang-orang langsung teringat kepada jenis pohon di pedalaman”, hal itu menunjukkan bahwa mereka semua menafsirkan pertanyaan yang sulit ini dengan banyak penafsiran. Al-Hafizh berkata, “Maksudnya pikiran mereka melayang ke pohon-pohon di pedalaman, lalu mulailah masing-masing mereka menafsirkannya dengan jenis dari jenis-jenis pohon di sana, sementara mereka lupa akan pohon kurma.”
Orang yang mencermati permasalahan yang dilontarkan Nabi ﷺ kepada mereka akan menemukan bahwa pertanyaan tersebut telah mendongkrak semangat mereka dan medorongnya untuk memikirkan pemecahan jawabannya serta jiwa mereka haus untuk mengetahui jawaban yang benar dari Rasulullah ﷺ manakala mereka tidak mampu menemukan jawabnya.
Juga, di antara perkara penting yang mesti dikuasai adalah, agar permasalahan ini membentuk pemikiran tertentu atau memantapkan pemahaman tertentu pada siswa. Anda boleh bertanya apa sisi kemiripan antara pohon kurma dengan seorang Muslim? Atau apa faidah yang bisa diambil dari pertanyaan ini? Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menjelaskannya dengan perkataannya, “Berkah pohon kurma ada pada setiap bagiannya dan terus-menerus pada setiap keadaannya, mulai dari sejak muncul hingga kering bisa dimakan dengan berbagai jenisnya, kemudian setelah itu semua bagiannya dapat dimanfaatkan sampai bijinya untuk pakan ternak dan serabutnya untuk dijadikan tali dan lainnya yang tidak samar lagi bagi kita. Demikian juga berkah seorang Muslim pada umumnya di seluruh keadaannya; dan kemanfaatnya berlaku secara terus-menerus, baginya dan bagi selainnya, sampai setelah matinya.”
Metode ini sangat bermanfaat jika difungsikan dan dimanfaatkan dengan baik, maka hendaknya guru menghindari permasalahan-permasalahan yang rumit dan hendaklah tidak menjadikan tekad kuatnya untuk membuat lemah murid dan membungkam mereka, bahkan semestinya dia mendekatkan (jawaban permasalahan) yang dilontarkan kepada mereka dengan menyebutkan indikasi-indikasi kondisi dan sarana-sarana lainnya agar dapat membantu mereka menemukan jawaban yang benar. Dan yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Rasulullah ﷺ ketika melontarkan permasalahan ini kepada mereka, maka di tangan beliau ada buah kurma. Di salah satu riwayat hadits ini, dari Mujahid, dia berkata, “Aku menemani Ibnu Umar dalam perjalanan ke Madinah, dan aku tidak mendengarnya menceritakan dari Rasulullah kecuali satu hadits, Dia berkata, ‘Kami berada di sisi Nabi ﷺ lalu didatangkan kepada beliau buah kurma, maka beliau bersabda, … (dan seterusnya)’.”
Ibnu Umar mengerti apa yang beliau maksudkan ketika melihat buah kurma di tangan Rasulullah ﷺ, dan tidak ada yang menghalanginya untuk menjawab pertanyaan tersebut kecuali karena usianya yang masih muda.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang yang memberikan teka-teki seharunya tidak berlebih-lebihan dalam menutupi (jawabannya), di mana dia tidak memberikan –untuk bahan teka-tekinya satu celah pintu yang dapat dimasuki. Akan tetapi semakin dia mnedekatkan (jawaban)nya, maka akan semakin terkesan dalam diri pendengarnya.”
Kesimpulan:
1. Urgensi metode ini dalam menguatkan daya paham dan meluaskan pengetahuan.
2. Mengambil manfaat dari metode tanya jawab ini untuk memantapkan makna-makna tertentu di dalam otak.
3. Mendekatkan (jawaban) soal yang dilontarkan dengan menyebutkan sebagian sifat dan kondisi-kondisi itu dapat
membantu menemukan jawaban.
4. Menjelaskan jawaban yang benar ketika siswa tidak mempu mendatangkan jawaban
Sumber: Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, Jamaluddin Lc, Begini Seharusnya Menjadi Guru. Jakarta : Darul Haq.