10. MENGGUNAKAN GAMBAR UNTUK MENJELASKAN DAN MENERANGKAN
Guru sangat membutuhkan sarana-sarana yang membantunya dalam menyampaikan materi pelajaran dengan bentuk yang lebih utama dan lebih mudah. Di antara sarana-sarana tersebut adalah papan tulis, di mana guru akan dapat membantu proses penyampaian materinya dengan menulis atau menggambar di atas papan tulis dan sejenisnya. Anda bisa melakukan perbandingan menulis atau menggambar di papan tulis dengan guru yang hanya menggunakan metode ceramah saja. Pasti yang pertama akan lebih jelas untuk makna yang dimaksudkan penjelasannya dan akan lebih cepat dipahami. Ini merupakan perkara yang tidak membutuhkan bukti lagi untuk menetapkannya. Guru yang pertama ﷺ telah mendahului (kecanggihan) sistem pendidikan modern sejak empat belas abad yang lalu, di mana beliau membantu ucapannya di sebagian pembicaraannya dengan gambar-gambar yang akan mendekatkan makna kepada otak dan membantu menghafal, di antaranya:
1). Dari Ibnu Mas’ud , dia berkata,
خَطَّ النَّبِيُّ ﷺ خَطَّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطَّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ، وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ
مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ، وَقَالَ : هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ – أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ – وَهٰذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ،
وَهٰذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا.
“Nabi ﷺ membuat sebuah garis segi empat dan membuat sebuah garis di tengah keluar dari garis tersebut. Lalu membuat garis-garis kecil ke arah garis yang di tengah ini dari garis yang ada di samping garis tengah seraya bersabda, ‘Ini adalah manusia, dan ini adalah ajalnya yang mengitarinya –atau telah melingkupinya –, dan garis yang keluar ini adalah angan-angannya, sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan, lalu jika ini (rintangan pertama) meluputinya niscaya ini (rintangan kedua) mengenainya, dan jika ini (rintangan kedua) meluputinya niscaya ini (rintangan ketiga) mengenainya (dan jika dia selamat dari semua rintangan niscaya ajal mengenainya)’.”
Dan berikut adalah gambarnya:
2). Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata
: خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَطًا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيْلُ اللَّهِ مُسْتَقِيمًا وَخَطَّ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ :
: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ
.( وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ)
“Rasulullah ﷺ membuat sebuah garis depan dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah yang lurus.’ Lalu membuat garis di kanan dan kirinya kemudian bersabda, ‘Jalan-jalan ini, tidak satu pun darinya melainkan pasti di atasnya ada setan yang menyeru kepadanya.’ Kemudian beliau membaca, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya’.” (Al-An’am:153)
Setelahnya, kita tambahkan beberapa perkara lain, yaitu:
a. Agar guru memperhatikan kejelasan materi yang ditulis atau yang digambar.
b. Agar memastikan bahwa semua siswa dapat melihat materi yang ditulis atau yang digambar, dan menyingkirkan semua penghalang yang menghalanginya.
c. Menggunakan (kapur) warna dan membuatnya berfariasi supaya menarik perhatian.
Kesimpulan:
1. Mendukung penjelasan dengan gambar dan tulisan akan menambah kuat penjelasan.
2. Menggabungkan antara gambar dan tulisan dengan penjelasan (metode ceramah) itu dapat membantu untuk menyampaikan pelajaran dengan mudah dan cepat.
3. Tulisan dan gambar haruslah jelas, dapat dilihat oleh semua siswa dengan memperhatikan tidak adanya penghalang-penghalang yang bisa menghalangi penglihatan siswa kepada-nya.
11. MENERANGKAN MASALAH-MASALAH YANG PENTING MELALUI METODE PENJELASAN SEBAB
Sebagian masalah kadang tertutup atas siswa, dia bingung dan tidak menemukan penafsirannya atau jalan keluar bagi rumusnya, maka pada saat itu tibalah peran guru untuk menjelaskan apa yang sukar dan tertutup bagi siswa. Di antaranya adalah dengan menggunakan metode penjelasan sebab, yaitu menjelaskan sebab dan alasan yang menjadikan masalah ini atau hukum ini sesuai dengan gambaran ini. Penjelasan sebab akan mengurai rumus masalah-masalah yang rumit, memasukkan perasaan lega ke dalam hati dan memberinya rasa tenang, di samping masuknya secara dalam masalah tersebut ke dalam otak dan menjaganya dari kelupaan, karena menghafal sesuatu yang diketahui alasan dan sebabnya akan lebih mudah bila dibanding sesuatu yang tidak diketahui alasan dan sebabnya. Dengan contoh-contoh (berikut) metode ini akan menjadi lebih jelas.
1). Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لْيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً.
“Jika lalat jatuh di bejana salah seorang dari kalian, hendaklah dia mencelupkannya, seluruh (tubuh)nya. Lalu dia membuangnya. Karena di salah satu sayapnya terdapat penyakit dan di sayap yang lain terdapat obat.”
Di dalam hadits ini, Nabi ﷺ menjelaskan hikmah dari mencelupkan lalat secara keseluruhan ke dalam bejana atau minuman; beliau memberikan alasan bahwa di salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan di sayap yang lain terdapat obat. Seandainya hadits tersebut datang begitu saja tanpa disertai penjelasan sebab dari beliau ﷺ, tentu akan menjadi problem yang membingungkan. Akan tetapi manakala penjelasan sebab ini datang, maka menjadi jelaslah sebab mencelupkan dan membuangnya tersebut.
2). Dari Tsabit bi adh-Dhahhak, dia berkata, Seorang laki-laki bernadzar di zaman Rasulullah ﷺ untuk menyembelih seekor unta di Buwanah. Maka Nabi ﷺ bertanya,
هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟ قَالُوْا: لَا، قَالَ: هَلْ كَانَ فِيهَا عِيْدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ ؟
قَالُوْا: لَا ، قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: أَوْفِ بِنَدْرِكَ، فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللّٰهِ، وَلَا فِيْمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ.
“Apakah di sana terdapat berhala dari berhala-berhala orang jahiliyah yang disembah?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya, “Apakah di sana terdapat perayaan dari perayaan-perayaan mereka?” Mereka menjawab, “Tidak.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tunaikanlah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh menunaikan nadzar dalam bermaksiat kepada Allah, dan tidak juga pada sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak Adam.”
Hadits ini menerangkan bahwa laki-laki tersebut bertanya kepada Nabi ﷺ, bahwa dia memiliki tanggungan nadzar (yang harus dilaksanakan) di sebuah tempat bernama Buwanah. Manakala laki-laki tersebut menyebutkan nama tersebut, maka Nabi ﷺ meminta penjelasan kepadanya tentang faktor penyebabnya. Beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah di sana terdapat berhala dari berhala-berhala orang jahiliyah; apakah di sana terdapat perayaan dari perayaan-perayaan mereka?’ Tatkala mereka menjawab tidak ada, dan tidak ada perkara yang dilarang di sana, yaitu bahwa tempat tersebut adalah tempat maksiat, maka Nabi ﷺ mengizinkannya untuk menunaikan nadzarnya, kemudian beliau memberi penjelasan sebab dari hal tersebut dengan sabdanya,
فَإِنَّهُ لَا وَفَا ءَلِنَذْرٍ فِيْ مَعْصِيَةِاللهِ.
“Sesungguhnya tidak ada penunaian bagi nadzar dalam bermaksiat kepada Allah.”
Maksudnya, nadzar maksiat tidak boleh untuk dilaksanakan. Anda dapat melihat bagaimana “penjelasan sebab” ini datang sebagai sebuah penjelasan bagi konfirmasi Nabi ﷺ tentang tempat itu. Seandainya Nabi ﷺ tidak memberikan penjelasan sebab tentu akan ada penanya yang bertanya, “Apa tujuan Nabi ﷺ mengkonfirmasikan tempat tersebut?” Akan tetapi, manakala penjelasan sebab tersebut datang, maka jelaslah maksud tersebut dan hilanglah praduga bersalah.
Kesimpulan:
1. Metode penjelasan sebab dapat memperjelas apa yang sulit bagi siswa untuk memahaminya serta apa yang menjadi problem baginya.
2. Metode penjelasan sebab dapat memberi rasa tenang pada hati dan mendekatkan makna kepada otak.
3. Metode penjelasan sebab adalah sebab faktor menancapnya pengetahuan ke otak siswa.
12. MEMBERI KESEMPATAN KEPADA MURID UNTUK MENCARI JAWABAN
Sesungguhnya tindakan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari jawaban sendiri adalah metode yang bagus dalam mengoperasikan otak dan memacunya untuk berpikir dan mencari jawaban. Indikasi metode ini memiliki peran positif adalah, bahwa metode ini dapat mengasah otak dan indra, dan menjadikannya mencari dengan giat untuk sampai pada jawaban yang diinginkan, dan ini pada batas substansinya sebagai suatu kemajuan dan usaha keras yang ditambahkan kepada perbendaharaan siswa. Penjelasannya, guru melontarkan sebuah permasalahan tertentu, kemudian mendekatkan (jawaban permasalahan)nya kepada mereka, kemudian meninggalkan jawaban dan putusan terakhir untuk mereka. Adakalanya permasalahan yang dilontarkan ini mewajibkan jawaban dari siswa, dan adakalanya tidak mewajibkan hal itu, akan tetapi tetap menuntut pengoperasian otak dan pengasahan berpikir. Berikut ini kami paparkan kepada Anda beberapa permisalan:
1). Dari Abu Dzar , Nabi ﷺ bersabda,
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنِ ابْنِ آدَمَ صَدَقَةٌ، تَسْلِيْمُهُ عَلَى مَنْ لَقِيَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُهُ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيُهِ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُهُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ، وَبُضْعَةُ أَهْلِهِ
صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ رَكْعَتَانِ مِنَ الضُّحَى… قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَحَدُنَا يَقْضِي شَهْوَتَهُ وَتَكُوْنُ لَهُ صَدَقَةٌ؟ قَالَ : أَرَأَيْتَ لَوْ وَضَعَهَا فِي غَيْرِ حِلِّهَا، أَلَمْ يَكُنْ يَأْتَمُ؟
“Sedekah datang di pagi hari pada setiap persendian anak Adam. Salamnya terhadap siapa yang dijumpai adalah sedekah; perintahnya kepada yang makruf adalah sedekah; larangannya dari yang mungkar adalah sedekah; bersetubuh bersama istrinya adalah sedekah. Dan mencukupi dari semua itu adalah dua rakaat Dhuha.”… Mereka (para sahabat) bertanaya, “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya, apakah itu sedekah baginya?” Beliau bersabda, “Bagaimana menurutmu jika dia meletakkannya bukan pada tempat halalnya, bukankah dia akan berdosa?”
Pertanyaan Nabi ﷺ di dalam hadits di atas, “Bagaimana menurutmu jika dia meletakkannya bukan pada tempat halalnya, bukankah dia akan berdosa?” Maka jawabannya, –walaupun tidak disebutkan – adalah jika dia meletakkannya pada tempat halalnya maka itu merupakan sedekah baginya. Bukankah ini membuat otak bekerja?
2). Dari Abu Hurairah dia berkata, seorang laki-laki dari Bani Fazarah datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata,
إِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلَامًا أَسْوَدَ فَقَالَ النَّبِيُّ : هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ : فَمَا أَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَوْرَقَ؟
قَالَ : إِنَّ فِيْهَا لَوُرْقًا. قَالَ : فَأَنَّى أَتَاهَا ذَلِكَ؟ قَالَ : عَسَى أَنْ يَكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ : وَهَذَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ.
“Sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak yang hitam!” Maka Nabi ﷺ bertanya, “Apakah kamu memiliki unta?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Maka apa saja warna-warnanya?” Dia menjawab “Merah.” Beliau bertanya, “Apakah di antaranya ada yang auraq?” Dia menjawab, “Ya, di antaranya ada yang auraq.” Beliau bersabda, “Lalu dari mana datangnya itu?” Dia berkata, “Bisa jadi itu diturunkan oleh faktor gen keturunan.” Beliau bersabda, “Dan (anakmu) ini mungkin saja juga diturunkan oleh faktor gen keturunan.”
Ketika merenungkan hadits ini, kita dapat melihat bagaimana Nabi ﷺ mengajaknya berdialog dan mendekatkan (jawaban) masalah tersebut kepadanya sehingga si penanya menjawab, “Bisa jadi itu diturunkan oleh faktor gen keturunan.” Tidak diragukan lagi bahwa metode ini menuntut kecerdasan dari guru dan kepintarannya untuk memilih masalah-masalah yang akan dilontarkan, serta memperhatikan kesederhanaan dan kemudian di dalamnya, juga mendekatkan (jawaban) permasalahannya ke otak dengan menyebutkan konteks (qarinah) dan kondisi-kondisi yang menyertai sejenisnya.
Kesimpulan:
1. Memberikan kesempatan kepada siswa mencari jawaban sendiri dari sebuah masalah adalah metode bagus dan bermanfaat untuk membuat otak bekerja dan mengasah pikirannya.
2. Adakalanya permasalahan yang dilontarkan mengharuskan sebuah jawaban dari siswa, dan adakalanya tidak mengharuskannya.
3. Metode ini menuntut kepiawaian guru dan kepintarannya untuk memilih contoh.
4. Semakin masalah yang dilontarkan itu mudah –bukan dari jenis permasalahan yang sulit bagi otak–maka hal itu akan lebih cepat mendorong kepada pencapaian tujuan.
Sumber: Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, Jamaluddin Lc, Begini Seharusnya Menjadi Guru. Jakarta : Darul Haq.