6. MENGAJAR LEWAT KISAH
Kisah memiliki kemampuan luar biasa dalam menarik perhatian jiwa dan memfokuskan indra sepenuhnya kepada orang yang berkisah. Itu karena kisah-secara alamiah-sangat disukai jiwa manusia, karena kisah mengandung berita orang-orang yang telah lalu, menyebutkan peristiwa, keanehan-keanehan, dan lainnya. Selain itu, kisah pada dasarnya memang melekat pada otak dan hampir-hampir tidak terlupakan. Ini adalah perkara yang sangat jelas dan diketahui oleh setiap orang. Karena itu al-qur’an al-Karim memberinya perhatian lebih dengan menyebutkan kisah-kisah di dalam al-Qur’an karena dapat menghibur hati, memupuk tekad, mengambil ibrah dan pelajaran, mengetahui kisah orang-orang terdahulu, mengenang peristiwa, dan masih banyak lagi yang lainnya. Al-Qur’an al-Karim tidak memuat kisah-kisah ini akan menemukan di antara bagian-bagiannya dan di antara sisi-sisinya terdapat pengukuhan terhadap perkara-perkara tauhid. Demikian juga terdapat penjelasan hikmah-hikmah Allah yang luar biasa dan SunnahNya pada hamba-hambaNya yang tetap tidak akan berubah dan tidak pula berganti. Kadang ditemukan pada sebagian kisah penjelasan tentang hukum-hukum fikih, seperti FirmanNya , dalam kisah Yusuf,
وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَّاَنَا۠ بِهٖ زَعِيْمٌ (۷۲)
‘…dan barang siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya’.” (Yusuf:72).
Hukum fikih yang bisa diambil dari ayat ini adalah perkara Ju’alah dan Kafalah. FirmanNya c,
وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ
“…dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta,”
Maksudnya sebagai imbalan atas jasa dia menemukannya. firmanNya, (وَأَنَاْبِهِ, زَعِيْمٌ) “… dan aku menjamin terhadapnya,” maksudnya sebagai kafil (penjamin). Dan ini dikatakan oleh orang yang kehilangan.
Dari sini dapat diketahui bahwa kisah memiliki peran besar dalam mengajar dan mendidik manusia. Rasul kita ﷺ telah membacakan berbagai kisah kepada para sahabatnya h untuk meneguhkan, mengajar, dan mendidik mereka, serta makna-makna lainnya. Di antaranya:
1). Bahwa Khabbab h datang kepada Nabi ﷺ mengadukan penyiksaan Quraisy (terhadapnya), dan itu pada masa awal dakwah di Makkah. Khabbab h berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah ﷺ sementara beliau berbaring berbantalkan dengan burdah miliknya di naungan Ka’bah. Kami berkata, “Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau mendoakan kami?” Beliau bersabda,
لَقَدْ كَا نَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْ خَذُالرَّ جُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا, فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَا رِ فَيُوْ ضَعُ عَلَى رَ أَسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ, وَيُمَشَّطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَ عَظْمِهِ, فَمَا يَصُدُّهُ ذٰ لِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيَتِمَّنَّ هٰذَا الْأَمْرُ, حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَا ءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَايَخَافُ إِلَّااللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ, وَلٰكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ.
“Sungguh orang-orang sebelum kalian, ada yang diambil lalu dibuatkan untuknya galian di tanah kemudian dia ditanam di dalamnya (hingga tinggal kepalanya yang terlihat). Lalu didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu dibelah dua, daging dan tulangnya disisir dengan sisir besi, maka hal itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan perkara (agama) ini hingga orang yang menunggang kendaraan berjalan dari Shan’a sampai ke Hadharamaut tidak takut kecuali kepada Allah dan kepada serigala terhadap kambingnya. Akan tetapi kalian terburu-buru.”
Kisah yang dibawakan Rasulullah ﷺ ini mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang tida kakan diketahui kecuali oleh orang-orang yang merenungkannya. Di dalamnya terdapat pelajaran, bahwa ujian dengan siksaan dan lainnya bagi ahli tauhid adalah sunnah lama; keteguhan orang-orang sebelum kita yang berada di atas kebenaran, tidak bisa dipalingkan oleh sesuatu apa pun dari agamanya, walaupun harus dibayar dengan nyawanya; dan dalam kisah itu mengandung berita ghaib, ketika beliau memberitakan tentang akan tegaknya agama ini; dan juga mengandung keterangan tentang keutamaan sifat sabar dan celaan terhadap sikap terburu-buru yang terlihat dari sabda beliau, “Akan tetapi kalian terburu-buru.”
Kisah di dalam as-Sunnah sangatlah banyak sekali, kalau saja tidak khawatir akan terlalu panjang, tentunya akan saya bawakan sebagian di antaranya, namun cukup saya isyaratkan di antaranya: kisah tiga orang (si buta, si kusta, dan si botak) yang didatangi malaikat, kisah tiga orang yang lari menyelamatkan diri ke gua lalu pintu gua tertutup oleh batu, kisah Nabiyullah Musa alaihissalam bersama Khidhir, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Hendaknya seorang guru tidak hanya terobsesi membawakan kisah saja, akan tetapi harus menjelaskan poin-poin pelajaran dari kisah tersebut, menjelaskan kesimpulan-kesimpulan yang bisa dipetik dari sebuah kisah, menjelaskan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya jika di dalamnya terkandung hukum, dan seterusnya.
Kesimpulan:
- Kisah sangat akrab dengan jiwa dan memiliki pengaruh luar biasa dalam menarik perhatian pendengar dan meghafal alur kisah dengan cepat.
- Kisah tidak diceritakan untuk hiburan semata, melainkan untuk diambil ibrah, nasihat, dan pelajaran darinya.
- Kisah memiliki peran sangat efektif dalam membentuk tanduk-tanduk siswa, terlebih jika kisah tersebut bersifat nyata dan menangani masalah-masalah penting.
- Kisah merupakan sarana jitu dalam proses pengajaran, karena itu harus diperhatikan serta diberi perhatian khusus.
7. MEMBUAT PERMISALAN
Seorang guru dan seorang pendidik perlu sarana yang akan mendekatkan masalah yang rumit atau yang misteri kepada otak, atau yang akan memperjelas tema yang sulit. Dengan kata lain, guru kadang dihadapkan pada sebagian kesulitan untuk menyampaikan pelajaran kepada otak pendengar, maka dia butuh kepada sarana lain yang akan membantunya memecahkan permasalahan ini dan membuka jalan di hadapan otak siswa, sehingga dia dapat mempelajari masalah yang sulit dengan mudah dan gampang.
Dari segi bahasa, shighat اَلْمَثَلُ dan kata-kata yang diambil darinya memiliki arti penggambaran, penjelasan, tampak, hadir, dan mempengaruhi. Dan اَلْمَثَلُ adalah sesuatu yang dibuat yang dijadikan sebagai permisalan, yang dengannya makna akan menjadi jelas, dan ia juga adalah sifat sesuatu.
Al-Qur’an al-Karim penuh dengan permisalan (perumpamaan), dan hal itu banyak sekali. Di antaranya FirmanNya ,
(۲٤) أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
(۲٥) تُؤۡتِىۡۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيۡنٍۢ بِاِذۡنِ رَبِّهَاؕ وَيَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ
(۲٦) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيۡثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيۡثَةٍ ۨاجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَهَا مِنۡ قَرَارٍ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akar-nya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit , pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya? Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (Ibrahim:24-26).
Dari Ibnu Abbas, dia memberi penafsiran terhadap firman-Nya,
(أَلَمْ تَرَكَيْفَ ضرَبَ اللهُ مَثَلًاكَلِمَةًكَلِمَةًطَيِّبَةًكَشَجَرَةٍطَيِّبَةٍ)
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik…”, “Yang dimaksudkan dengan pohon yang baik adalah orang Mukmin, dan yang dimaksudkan dengan akar yang teguh di bumi dan cabangnya menjulang ke langit adalah bahwa seorang Mukmin beramal dan berbicara di bumi, tetapi ucapan dan perbuatannya sampai ke langit sementara dia di bumi.”
Mengenai FirmanNya dalam ayat yang terdahulu,
(٢٥) وَيَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ
“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat,”
Asy-Syaukani berkata, “Membuat perumpamaan megandung nilai plus bagi daya ingat dan daya paham, serta merupakan visualisasi makna.”
As-Sa’di berkata, “Membuat permisalan bisa mendekatkan makna-makna yang rasional kepada contoh-contoh yang bisa dirasa, sehingga makna yang dikehendaki Allah tampak jelas dengan sejelas-jelasnya serta tampak terang dengan seterang-terangnya. Ini termasuk rahmat Allah dan pengajaranNya yang sempurna. Maka hanya bagi Allah-lah pujian yang sempurna, lengkap, dan menyeluruh.”
Abu Bakar al-Jaza’iri berkata setelah menyebutkan ayat ini, “Di antara petunjuk yang ada dalam ayat-ayat tersebut adalah dianjurkannya membuat perumpamaan untuk mendekatkan makna kepada otak.”
Guru besar ﷺ banyak membuat perumpamaan di dalam ucapan dan perkataan-perkataan beliau, disebabkan beliau ﷺ mengetahui bahwa permisalan mempunyai kemampuan dahsyat dalam mendekatkan makna dan menjelaskan maksud. Di antaranya:
1). Hadits Abu Musa al-Asy’ari di dalam ash-Shahihain dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْ آنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ, رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْ مِنِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْ آنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْقٌ, وَ مَثَلُ الْمُنَا فِقِ الَّذِيْ يَقْرَ أُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَا نَةِ, رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَ طَعْمُهَا مُرُّ, وَمَثَلُ الْمُنَا فِقِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ, لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَامُرٌّ.
“Perumpamaan Mukmin yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah, rasanya enak serta baunya wangi; perumpamaan Mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, rasanya enak tapi tidak memiliki bau; perumpamaan munafik yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah raihanah, baunya enak tapi rasanya pahit; perumpamaan munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah hanzhalah, tidak memiliki bau serta rasanya pahit.”
Lihatlah, wahai saudaraku- semoga Anda diberkahi-, terhadap perincian ini, betapa indahnya! Kemudian renungkanlah pengaruh permisalan tersebut, yang menjelaskan hakikat seorang Mukmin dan seorang munafik yang membaca al-Qur’an dan yang tidak membaca al-Qur’an.
2). Dari an-Nawwas bin Sam’an al-Anshari, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,
ضَرَ بَ اللهُ مَثَلً صِرَا طًا مُسْتَقِيْمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُوْ رَانِ فِيْهِمَا أَبْوَا بٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَا بِ سُتُوْ رٌ مُرْ خَاةٌ, وَعَلَى بَابِ الصِّرَا طِ دَاعٍ يَقُوْلُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ, اُدْ خُلُوا الصِّرَا طَ جَمِيْعًا وَ لَا تَتَفَرَّ جُوْ, وَدَا عٍ يَقُوْ لُ : يَا أَيُّهَاالنَّا سُ, اُ دْ خُلُوا الصِّرَا طَ جَمِيْعًا وَ لَا تَتَفَرَّ جُوْ, وَدَا عٍ يَدْعُومِنْ جَوْفِ الصِّرَا طِ, فَإِذَا أَرَادَ أَ نْ
يَفْتَحْهُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ, قَالَ : وَيْحَكَ, لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ. وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ, وَالسُّوْرَانِ
وَذٰلِكَ الدَّعِيْ عَلَى رَأْ سِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ cوَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللهِ حُدُوْ دُ اللهِ
وَالدَّا عِيْ فَوْقَ الصِّرَا طِ وَاعِظُ اللهِ فِيْ قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمِ.
“Allah membuat permisalan berupa jalan yang lurus, dan di kedua sisi jalan tersebut terdapat dua dinding yang memiliki pintu-pintu yang terbuka, dan di atas pintu-pintu tersebut ada tabir-tabir yang terurai. Di pintu (penghujung) jalan tersebut ada penyeru yang berseru, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian ke jalan dan janganlah kalian keluar.’ Serta seorang penyeru menyeru di atas jalan; jika seseorang hendak membuka salah satu pintu-pintu tersebut, penyeru itu berkata, ‘Celaka kamu, janganlah kamu membukanya karena kalau kamu membukanya, kamu akan masuk ke dalamnya.’ Jalan tersebut adalah Islam, dua dinding adalah batasan-batasan Allah , dan pintu-pintu yang terbuka tersebut adalah larangan-larangan Allah; sementara penyeru yang berada di penghujung jalan adalah Kitab Allah dan penyeru di atas jalan adalah nasihat Allah di dalam hati setiap Muslim.”
3). Dari Abu Hurairah radiallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ مَثَلِيْ وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَ حْسَنَهُ وَ أَجْمَلَهُ, إِلَّا مَوْ ضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَا وِيَةٍ, فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوْ فُوْ نَ بِهِ وَيَعْجَبُوْنَ لَهُ وَيَقُوْ لُوْ نَ : هَلَّا وُضِعَتْ هٰذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ : فَأَنَا اللَّبِنَةُ, وَأَنَا خَا تِمُ النَّبِيِّيْنَ.
“Perumpamaanku dan Nabi-nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, maka dia membaguskan dan mempercantiknya kecuali satu bata di satu sudut. Orang-orang mulai mengelilinginya dan terkagum-kagum kepadanya serta berkata, ‘Mengapa batu bata ini tidak dipasang?’ Beliau bersabda, “Akulah batu bata tersebut dan aku adalah penutup para Nabi.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab al-Munaqib; Muslim dalam al-Fadha’il ; dan Ahmad dalam Musnad al-Muktsirin. )
Ibnu Hajar berkata, “Seolah-olah beliau menyerupakan para Nabi beserta ajaran yang mereka bawa yang memberi petunjuk kepada manusia, dengan sebuah rumah yang pondasi-pondasinya telah dipasang dan bangunannya telah ditinggikan dan tersisa sebuah bagian darinya, yang dengannya keindahan rumah itu akan menjadi sempurna…” Kemudian beliau berkata, “Di dalam hadits tersebut terkandung pelajaran membuat perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman, dan terkandung keutamaan Nabi ﷺ atas Nabi-nabi yang lain, dan bahwa Allah telah menutup para rasul dengan beliau serta menyempurnakan syariat-syariat agama dengan beliau.”
Kesimpulan:
- Membuat permisalan adalah sarana yangn bagus dalam upaya mendekatkan makna dan pemikiran.
- Sebagian guru terpaksa membuat perumpamaan ketika masalah tertentu sulit untuk dicerna, maka dia perlu membuat permisalan untuk memaparkan dan mendekatkannya kepada pemahaman.
- Faidah yang dapat dipetik dari membuat contoh tergantung kecerdasan guru dalam menggambarkan misal tersebut agar sesuai dengan topik yang hendak dijelaskan.
Sumber: Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, Jamaluddin Lc, Begini Seharusnya Menjadi Guru. Jakarta : Darul Haq.