8. METODE MEMBANGKITKAN RASA PENASARAN

Metode membangkitkan rasa penasaran adalah sebuah metode atau salah satu cara untuk membangkitkan semangat dan mengompori jiwa, karena jiwa manusia selalu merasa penasaran untuk mengetahui setiap sesuatu yang baru. Bahkan, mengompori pelajar dan menimbulkan rasa penasaran padanya akan membuatnya menelaah dan memperdalam ilmu dengan penuh rasa haus dan keinginan yang kuat untuk mengetahui sesuatu yang dia merasa penasaran tentangnya. Hal itu dipertegas oleh Hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al-mualla 
1). Beliau berkata, “Saya pernah shalat di masjid, lalu tiba-tiba Rasulullah ﷺ memanggilku dan saya tidak menyahut panggilan beliau. (Selesai shalat) saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya tadi sedang shalat.’ Beliau bersabda,
أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ (أَسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ) ثُمَّ قَالَ لِي: لَأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ: أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ؟ قَالَ :
(اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(۲))هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أَوْتِيْتُهُ.
“Bukankah Allah berfirman, ‘Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian.’ (Al-Anfal:24)?” Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku akan mengajarkanmu sebuah surat yang merupakan surat paling agung dalam al-Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid.’ Kemudian beliau menggandeng tanganku. Manakala beliau hendak keluar, saya berkata kepada beliau, ‘Bukankah Anda telah mengatakan kepadaku, ‘Aku akan mengajarkanmu sebuah surat yang merupakan surat paling agung dalam al-Qur’an?” Beliau bersabda,” (Yaitu Surat) ( اَلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ , yaitu as-Sab’u al-Matsani dan al-Qur’an al-Azhim yang diberikan kepadaku.”
Dalam hadits ini tampak dengan jelas bagi kita rasa penasaran sahabat tersebut untuk mengetahui surat paling agung dalam al-Qur’an, di mana dia tidak sabar dan tidak meninggalkan Rasulullah ﷺ hingga beliau keluar, melainkan dia mendahului beliau dengan perkataannya, “Bukankah Anda telah mengatakan kepadaku, ‘Aku akan mengajarkanmu satu surat yang merupakan surat paling agung dalam al-Qur’an?”
2). Semisal dengan hadits di atas adalah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
اِحْشِدُوْا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ. فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ فَقَرَأَ:( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)
ثُمَّ دَخَلَ فَقَالَ: بَعْضُنَا لِبَعْضٍ : إِنِّي أُرَى هَذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنَ السَّمَاءِ. فَذَاكَ الَّذِي أَدْخَلَهُ. ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ
ﷺ. فَقَالَ: إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ: سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ. أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ.
“Berkumpullah kalian, aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al-Qur’an. “Maka berkumpullah orang yang berkumpul. Kemudian Nabi Allah ﷺ keluar seraya membaca, “Qul Huwallahu Ahad (Surat al-Ikhlas)”, lalu beliau masuk, sebagian kami berkata kepada sebagian yang lain, “Saya menduga ada berita yang datang kepadanya dari langit, hal itulah yang membuat beliau masuk.” Kemudian Nabi Allah ﷺ keluar sambil berkata, “Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa aku akan membacakan kalian sepertiga al-Qur’an, maka ketahuilah surat tersebut menyetarai sepertiga al-Qur’an.
Ketahuilah, ucapan Rasulullah ﷺ dan perbuatan beliau tersebut memiliki pengaruh besar dalam memancing kerinduan dan rasa penasaran mereka untuk mendengar sepertiga al-Qur’an dari beliau ﷺ. Dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya indikasi jelas atas keutamaan membaca Surat al-Ikhlash. Di antaranya kerinduan para sahabat untuk mendengar sepertiga al-Qur’an dari mulut Rasulullah ﷺ. Di antaranya, seruan beliau, “Berkumpullah kalian!” kemudian masuk serta keluarnya beliau, membuat kisah dengan berbagai peristiwanya tertancap betul dalam benak para sahabat dan membuat mereka hafal terhadap kisah tersebut.
3). Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, beliau bertutur, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda,
يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.
‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang laki-laki penduduk surga.’
Maka seorang Anshar datang, jenggotnya meneteskan air dari bekas wudhunya; menggantungkan kedua sandalnya di tangannya yang kiri. Keesokannya Rasulullah ﷺ bersabda seperti itu, maka laki-laki tersebut muncul seperti yang pertama kali. Pada hari yang ketiga Rasulullah berkata seperti itu juga, maka laki-laki tersebut muncul lagi dalam kondisinya yang pertama. Manakala Rasulullah ﷺ bangkit, Abdullah bin Amr bin al-Ash membuntutinya, dia berkata, ‘Sungguh, aku sedang cekcok dengan bapakku, dan aku bersumpah bahwa aku tidak akan datang kepadanya selama tiga hari, jika kamu bersedia mengajakku tinggal bersamamu sampai berlalu (tiga hari itu), aku akan melakukannya.’ Dia berkata ‘Ya’.”
Anas berkata, “Abdullah bercerita bahwa dia menginap di rumahnya selama tiga malam, dia tidak melihatnya bangun malam sedikit pun kecuali jika bangun dan membalikkan tubuh di atas kesurnya, dia berdzikir kepada Allah dan bertakbir hingga dia bangun untuk Shalat Shubuh. Abdullah berkata, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali yang baik. Manakala tiga malam tersebut telah berlalu dan aku hampir meremehkan amalannya, aku berkata, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya percekcokan dan tidak saling bicara tidak pernah terjadi antara aku dan bapakku, akan tetapi aku mndengar Rasulullah ﷺ berkata tentang dirimu sebanyak tiga kali, يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang laki-laki penduduk surga’, lalu kamu pun muncul di ketiga kali tersebut. Maka aku berkeinginan tinggal bersamamu untuk melihat apa yang kamu kerjakan, agar aku meneladaninya. Tetapi, aku tidak melihatmu berbuat amalan besar, maka apakah yang mengantarkanmu kepada apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ?’ Dia berkata, ‘Amal saya adalah sebagaimana yang telah kamu lihat. ‘Ketika aku hendak beranjak pergi, dia memanggilku seraya berkata, “Tidak lain kecuali apa yang kamu lihat, hanya saja aku tidak mempunyai perasaan dongkol dalam diriku terhadap seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.’ Abdullah berkata, ‘Inilah yang telah kamu gapai dan ini adalah perkara yang tidak dapat dikuasai’.”
Di dalam kisah ini, terdapat faktor yang mendorong Abdullah bin Amrbin al-Ash untuk mengatakan apa yang dikatakannya kepada sahabat tersebut supaya dia mengetahui faktor penyebab yang karenanya Rasulullah ﷺ tiga kali mengatakan,
يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ لْجَنَّةِ. “Akan muncul pada kalian sekarang seorang laki-laki penduduk surga.” Dan sangat jelas sekali dalam hadits ini terdapat metode membangkitkan rasa ingin tahu dan rasa penasaran.
Kesimpulan:
1. Menggunakan metode membangkitkan rasa penasaran merupakan pendorong paling kuat untuk belajar dan mencari serta meneliti.
2. Harus diletakkan oleh seorang guru dalam penilaiannya bahwa ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam metode ini haruslah mengantarkan kepada makna yang dikehendaki serta dirindukan jiwa, seperti sabda beliau ﷺ, “Aku akan mengajarkanmu sebuah surat dalam al-Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”, “Berkumpullah kalian, aku akan membacakan kalian sepertiga al-Qur’an”, dan “Akan muncul pada kalian sekarang seorang laki-laki penduduk surga” (sebanyak tiga kali).
3. Apabila metode ini semakin kuat, maka pendorongnya akan semakin kuat.

 

9. MENGGUNAKAN ISYARAT (GERAKAN DAN KEPALA) DALAM MENGAJAR

Guru tidak bisa terlepas dalam kondisi apa pun dari (memberikan) isyarat tangan dan kepala dalam praktik mengajarnya. Isyarat akan selalu menyertai si pembicara, apa pun jenis pembicaraan(nya). Akan tetapi, apakah ada jalan untuk memfungsikan gerakan-gerakan dan isyarat-isyarat ini untuk kemaslahatan mengajar? Jawabannya: “Ya.” Jika Anda bertanya kepada saya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Saya katakan kepada Anda, “Perhatikanlah baris-baris berikut ini:
Sesungguhnya mata murid akan terus mengikuti pada setiap gerakan dan diamnya guru. Oleh karena itu, dia akan terpengaruh dengan reaksi balik yang diciptakan guru. Jadi (kesimpulannya), murid dapat terpengaruh dengan gerakan tangan dan kepala. Dan guru seringkali memanfaatkan gerakan-gerakan dan isyarat-isyarat ini dalam beberapa perkara:
Salah satunya, menambah kejelasan dan keterangan serta memberi penekanan pada suatu ucapan; kita mengambil (kesimpulan) ini dari hadits Jabir , dalam konteks hajinya Nabi ﷺ.
1). Bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan sahabat-sahabatnya, barangsiapa tidak membawa hewan kurban agar bertahalul dari ihramnya setelah thawaf antara Shafa dan Marwah, dan menjadikannya sebagai umrah, beliau bersabda,
لَوْ أَنِّي اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ، لَمْ أَسْقِ الْهَدْيَ وَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً، فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحِلَّ، وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً. فَقَامَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدِ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِي الْأُخْرَى وَقَالَ: دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِي الْحَجِّ مَرَّتَيْنِ لَا بَلْ لِأَبَدٍ أَبَدٍ.
“Seandainya saya mengetahui (sebelumnya) pada awal dari perkaraku sesuatu yang saya ketahui pada akhirnya, niscaya saya tidak akan membawa hewan hadyu (sembelihan), dan saya akan menjadikannya (manasik haji) sebagai umrah. Maka barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa hewan hadyu hendaknya dia bertahallul (dari ihram hajinya), dan menjadikannya sebagai umrah.” Suraqah bin Malik bin Ju’syum berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah untuk tahun kita ini ataukah untuk selamanya?” Maka Rasulullah ﷺ memasukkan jari-jarinya yang satu pada jari-jarinya yang lain, seraya bersabda, “Umrah masuk pada haji” (dua kali). “Tidak, bahkan untuk selama-lamanya.”
Sisi pendalilannya di sini adalah bahwa Rasulullah ﷺ memasukkan jari-jarinya yang satu kepada jari-jarinya yang lain untuk menjelaskan dan memberikan penekanan bahwa hukum ini berlanjut untuk selama-lamanya. Tidak samar di dalam gerakan ini mengandung makna-makna yang kuat yang menambahkan pada ucapan sebuah penekanan, kekuatan ditambah kekuatan.
2). Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah ﷺ menyebut (fadhillah) Hari Jum’at seraya bersabda,
فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللهَ تَعَالٰى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَأَشَارَ بِيَدِهِ
[يُقَلِّلُهَا [يُزَهِّدُهَا
“Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba Muslim bertepatan dengan waktu itu ketika dia berdiri shalat memohon sesuatu kepada Allah  melainkan pasti Dia memberikannya kepadanya.” Dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya menunjukkan pendeknya waktu itu [menyatakannya singkat].
Dengan mencermati hadits ini, akan tampak bahwa isyarat beliau ﷺ memberikan makna baru dan lebih atas sabda beliau ﷺ, yaitu bahwa waktu ini perkaranya ringan dengan timbal balik sebuah imbalan meraih perkara besar. Ini merupakan karunia Allah atas hamba-hambaNya. Az-Zain bin al-Munir berkata, “Isyarat dengan memperpendeknya adalah untuk memberikan anjuran berdoa di dalamnya dan memotivasi pelaksanaannya lantaran waktunya pendek dan keutamaannya melimpah.”
Yang kedua: menarik perhatian dan mendalamkan dengan mantap sebagian makna di dalam otak.
1). Kita dapat merasakan dari hadits terdahulu yang dibawakan Jabir bin Abdillah , yaitu ketika Nabi ﷺ berpidato kepada kaum Muslim di Namirah pada Hari Arafah, yang di dalam pidatonya ini beliau menjelaskan kepada mereka beberapa perkara yang besar, kemudian setelah usai menyampaikan kepada mereka, beliau bersabda kepada mereka,
وَأَنتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنِّي، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ، فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ : اللّٰهُمَّ اشْهَدْ اللّٰهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
“Kalian akan ditanya tentangku, maka apa yang akan kalian katakan?” Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan, dan memberi nasihat.” Beliau bersabda dengan (memberikan isyarat) jari telunjuk beliau yang beliau mengangkatnya ke langit dan mengarahkannya kepada manusia, ‘Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!’ Sebanyak tiga kali.”
Perihal Rasulullah ﷺ mengangkat jarinya ke langit kemudian mengarahkannya kepada manusia dapat menarik perhatian mereka terhadap perkara penting dan besar ini, yaitu kedudukan pemberian kesaksian atas tabligh (penyampaian wahyu).
2). Abu al-‘Aliah al-Barra’ menceritakan tentang tindakan Ibnu Ziyad (sang penguasa) yang mengakhirkan shalat, kemudian dia menceritakan hal tersebut kepada Abdullah bin ash-Shamit, maka dia menggigit kedua bibirnya (sebagai ungkapan kebenciannya pada tindakan tersebut) dan menepuk pahaku sambil berkata, ‘Saya telah bertanya kepada Abu Dzar sebagaimana kamu bertanya kepadaku, maka dia menepuk pahaku sebagaimana aku menepuk pahamu seraya dia (Abu Dzar) berkata, ‘Aku telah bertanya kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana kamu bertanya kepadaku, maka beliau pun menepuk pahaku sebagaimana aku menepuk pahamu seraya beliau ﷺ bersabda,
صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَ الصَّلَاةَ مَعَهُمْ فَصَلِّ وَلَا تَقُلْ إِنِّي قَدْ صَلَّيْتُ فَلَا أُصَلِّي.
“Lakukanlah shalat pada waktunya, jika kamu mendapatkan shalat bersama mereka, maka ikutlah shalat dan jangan katakan saya telah shalat, jadi saya tidak ikut shalat.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no.648].
An-Nawawi menerangkan dalam kitab Syarh Muslim, “Perkataannya, ‘Maka dia menepuk pahaku’ adalah untuk mengingatkan dan supaya mengkonsentrasikan otak terhadap apa yang akan diucapkan kepadanya.”
Yang ketiga: Untuk meringkas.
Adapun tujuan meringkas, maka kita mengambilnya dari hadits Muttafaq ‘alaih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,
1). Rasulullah ﷺ bersabda,
مِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمِ : عَلَى الْجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ، وَالْيَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ. أُ

“Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh anggota badan: Di atas dahi, dan beliau memberi isyarat dengan tangannya ke hidungnya, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung kedua kaki.”
Tidakkah Anda melihat beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh anggota badan, kemudian beliau menyebutkan dahi, dan memberi isyarat dengan tangannya ke hidung?” Ini mengandung penjelasan bahwa hidung mengikuti dahi, maksudnya seolah-olah keduanya adalah satu anggota. Di dalamnya juga terdapat ringkasan yang indah, karena beliau ﷺ mencukupkan diri dari menyebutkan hidung dengan memberi isyarat kepadanya. Tidakkah Anda melihat seandainya beliau tidak memberi isyarat ke hidung, tentunya akan dikatakan dahi dan hidung, tetapi manakala digunakan isyarat terhadap hidung bersama ucapan beliau, “dahi”, maka hal itu mencukupkan beliau dari menyebutkan hidung. Wallahu a’lam.
2). Dari Ibnu Abbas ,
أَنَّ النَّبِيِّ ﷺ سُئِلَ فِي حَجَّتِهِ فَقَالَ : ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ؟ فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ قَالَ : وَلَا حَرَجَ، قَالَ : حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ؟ فَأَوْمَا بِيَدِهِ قَالَ :
وَلَا حَرَجَ، قَالَ: حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ ؟ فَأَوْ مَا بِيَدِهِ: وَلا حَرَجَ.
“Bahwa Nabi ﷺ ditanya pada saat haji beliau. Lalu orang itu bertanya, ‘Bolehkah saya menyembelih sebelum melempar?’ Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya seraya bersabda, “Tidak apa-apa.’ Dia bertanya, ‘Bolehkah saya mencukur sebelum melempar?’ Beliau memberi isyarat dengan tangannya seraya bersabda, ‘Tidak apa-apa.’ Dia bertanya, ‘Bolehkah saya mencukur sebelum menyembelih?’ Beliau memberi isyarat dengan tangannya seraya bersabda, ‘Tidak apa-apa’.”
3). Dari Abu Hurairah , dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
يُقْبَضُ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ. قِيلَ: يَا رَسُولُ اللهِ، وَمَا الْهَرْجُ ؟ فَقَالَ : هَكَذَا، بِيَدِهِ فَحَرَّفَهَا، كَأَنَّهُ يُرِيدُ الْقَتْلَ.
“Ilmu akan ditarik lalu kejahilan dan fitnah-fitnah akan muncul dan al-Harj akan merajalela.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah al-Harj itu?” Beliau bersabda, “Seperti ini.” (beliau mengisyaratkannya) dengan tangan beliau, lalu membengkokkannya, seakan-akan beliau memaksudkannya dengan pembunuhan.”
Kesimpulan:
1. Memfungsikan isyarat kedua tangan dan kepala untuk kemaslahatan mengajar.
2. Isyarat dapat membantu guru untuk menyingkat, atau memberi penekanan terhadap ucapan, atau melakukan pendalaman dengan kokoh dan menguatkan sebagian dari perkara-perkara yang penting, atau menarik perhatian pendengar, atau membantu guru mengungkapkan sebagian makna yang kadang tidak bisa diungkapkan oleh lisan, dan lainnya.
3. Masih banyak lagi beberapa fungsi isyarat yang sudah diketahui oleh khalayak, dan ia dikenal oleh kita dengan hukum adat kebiasaan. Seperti isyarat meminta untuk diam, isyarat yang menunjukkan tidak ada, isyarat untuk meminta datang dan pergi, dan yang lainnya.
4. Berlebihan dalam menggerakkan tangan dapat mengganggu siswa, dan sebaliknya menonaktifkan sarana ini akan menghilangkan sebagian sarana yang dapat membantu guru dalam menrengkan sebagian materi yang harus dijelaskan. Kedua tujuan perkara yang berlawanan ini tercela.

 

 

 

Sumber: Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, Jamaluddin Lc, Begini Seharusnya Menjadi Guru. Jakarta : Darul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *