3. SERASI ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN
Allah berfirman SWT,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah balıca kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaf: 2-3).
Maksudnya, mengapa kalian mengatakan (menyuruh melakukan) kebaikan dan menganjurkannya, dan barangkali kalian memuji diri kalian dengannya, sementara kalian tidak melakukannya? Dan (mengapa) kalian melarang dari yang buruk, dan barangkali kalian menyatakan diri kalian bersih darinya, sementara kalian terjerumus olehnya dan melakukannya? Apakah sikap yang buruk ini pantas bagi orang-orang beriman? Atau adakah yang lebih besar daripada kebencian di sisi Allah bahwa hamba mengatakan sesuatu yang tidak diperbuatnya? Oleh karena itu, seyogyanya bagi orang yang memerintahkan kebaikan agar menjadi orang yang pertama kali bersegera melakukannya,dan orang yang melarang keburukan agar menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah SWT berfirman.
اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
“Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab Suci? Tidakkah kalian berpikir?” (Al-Baqarah: 44).
Dan Nabi Syu’aib berkata,
وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِقَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَنكُمْ عَنْهُ )
“…..dan aku tidak berkehendak menyalahi kahan (dengan mengerjakan) apa yang kalian aku larang darinya.” (Hud: 88)
Rasul kita memerintahkan manusia melakukan kebaikan dan beliau adalah orang yang paling pertama kali melakukannya, beliau melarang manusia dari keburukan dan beliau adalah orang yang paling pertama kali menghindari dan menjauhinya. Ini adalah kesempurnaan akhlak beliau. Hal itu tidaklah aneh, karena akhlak beliau adalah al-Qur’an.
Serasi antara ucapan dan perbuatan lebih cepat diterima daripada perkataan (ajakan) belaka. Hal itu akan menjadi lebih jelas bagi kita dari sela-sela pembawaan peristiwa berikut yang terjadi pada diri Nabi dan kaum Muslimin yang bersamanya dalam kisah Shulh alHudaibiyah. Manakala orang-orang musyrik menyepakati perjanjian damai dengan orang-orang Islam dengan syarat-syarat tertentu, di antaranya agar orang-orang Islam pada tahun ini kembali ke Madinah dan datang berhaji di tahun yang akan datang. Imam Ibnul Qayyim bercerita,”Setelah selesai menulis perjanjian, Rasulullah berseru,
قُوْمُوا فَانْحَرُوا ثُمَّ اخْلَقُوا
”Berdirilah kalian, dan sembelihlah hewan kurban kalian, kemu- dian cukurlah rambut kalian.”
Demi Allah, tidak seorang pun dari mereka bangkit sampai beliau mengucapkan hal itu sebanyak tiga kali. Manakala tidak seorang pun dari mereka yang bangkit,” beliau masuk kepada Ummu Salamah dan menceritakan apa yang beliau jumpai pada manusia. Ummu Salamah berkata, Wahai Rasulullah, apakah Anda menginginkan hal itu? Keluarlah, dan jangan berbicara kepada seorang pun dari mereka hingga Anda menyembelih sendiri hewan kurban Anda dan Anda memanggil orang yang akan mencukur Anda supaya dia mencukur Anda.’
Beliau pun bangkit, lalu keluar dan tidak berbicara kepada seorang pun dari mereka hingga melakukannya. Beliau menyembelih hewan kurbannya dan memanggil tukang cukurnya supaya mencukur rambut beliau. Manakala orang-orang melihat hal itu, mereka bangkit lalu menyembelih hewan kurban mereka dan sebagian mereka mulai mencukur sebagian yang lain. ” Di sini terlihat dengan jelas bagi kita bagaimana para sahabat tidak langsung melaksanakan perintah beliau, tetapi manakala mereka melihat beliau bersegera melakukannya sebelum mereka, mereka melakukannya dan tak seorang pun dari mereka yang ketinggalan.
Pengajar adalah orang yang paling membutuhkan konsistensi dalam menjalani metode ini pada kehidupan riilnya, karenadia adalah contoh yang diteladani. Para anak didiknya menimba akhlak, adab, dan ilmu darinya. Demi Allah, faidah apa yang bisa diharapkan dari seorang pengajar yang ucapannya bertolak belakang dengan perbuatannya? Kemudian, kontradiksi yang disaksikan oleh anak didik dari pihak gurunya akan menjatuh kannya ke dalam kebimbangan yang besar, seolah-olah saya menyaksikan siswa yang kebingungan tersebut, sementara ia penuh tanda tanya, “Saya bingung dalam urusan saya. Apa yang mesti saya lakukan? Apakah saya mesti membenarkan ucapannya, ataukah perbuatannya yang bertolak belakang dengan ucapannya? Dia ajarkan kepada kami, bahwa dusta merupakan kebiasaan buruk yang tercela dan ujung-ujungnya bermuara kepada kerugian, namun kemudian setelah itu kita mendengarnya berkali-kali mendustai kami!”
Lantaran itu, larangan tersebut sangat keras dalam Firman- Nya:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ )
“Amat besar kebencian di sısı Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaf: 3).
Maka wajib atas para pendidik dan para pengajar agar selalu takut kepada Allah, karena para anak didik tersebut adalah amanat yang dipikulkan di pundak mereka. Hendaklah mereka berjuang keras dalam mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anak didik serta menserasikan antara ucapan dengan tindakan nyata mereka, karena hal itu akan memperkokoh ilmu yang mereka ajarkan.
Al-Ghazali berkata, “Tugas yang kedelapan adalah, hendaknya seorang pengajar melaksanakan ilmunya. Janganlah ucapannya mendustakan perbuatannya, karena ilmu diketahui melalui mata hati, sedangkan amal diketahui dengan mata kepala, dan pemilik mata kepala lebih banyak. Jika amal menyalahi ilmu, maka hidayah akan terhalangi. Setiap orang yang mengonsumsi sesuatu tertentu lalu berkata kepada manusia, Jangan mengonsumsinya, itu adalah racun yang bisa membinasakan. Orang-orang akan mencibir dan tidak mempercayainya, dan justru keinginan mereka terhadap apa yang dilarangnya akan semakin bertambah. Mereka mengatakan, Seandainya bukan karena ia adalah sesuatu yang paling enak dan paling lezat, tentunya dia tidak akan mengutamakan dirinya dalam mengonsumsinya. Perumpamaan pengajar yang memberikan arahan terhadap orang-orang yang diberi arahan adalah seperti lukisan dari tanah dan bayang-bayang tongkat. Bagaimana tanah akan terlukis dengan sesuatu yang tidak memiliki tinta, dan kapankah bayangan akan lurus jika tongkatnya bengkok?” Abu al-Aswad adDu’ali bersyair,
Wahai laki-laki yang mengajari orang lain,
Tidakkah sepatutnya pengajaran ini ditujukan untuk dirimu Jangan melarang sesuatu
Sementara kamu melakukan yang semisalnya,
Sangatlah tercela dirimu jika kamu melakukan(nya),
Mulailah dari dirimu, cegah ia dari penyimpangannya,
Maka jika kamu meninggalkannya, berarti kamu adalah orang bijak Pada saat itulah kamu diterima jika menasihati
Dan diikuti perkataanmu serta pengajaran(mu) akan membuahkan manfaat
Kamu merekomendasikan obat bagi orang yang sakit
Agar bisa sehat dengannya sementara kamu sendiri yang sakit
Saya melihatmu menyuntikkan nasihat hidayah kepada otak kami Sementara kamu sendiri hampa dari hidayah tersebut
Kesimpulan:
- Merupakan kebiasaan tercela yang dilakukan adalah orang. orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya, dan cukuplah FirmanNya
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ )
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaf: 3).
Sungguh di dalam FirmanNya ini terdapat nasihat dan pelajaran bagi orang yang berakal.
- Kontradiksi ucapan dengan perbuatan menempatkan siswa pada kebingungan dan menjadikannya tidak stabil pada satu keadaan.
- Besarnya tugas yang diemban para pengajar dan pendidik
4. BERSIKAP ADIL DAN TIDAK BERAT SEBELAH
Allah Swt berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَابِ ذِي الْقُرْكَ وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran’‘ (An-Nahl: 90).
Allah juga berfirman,
وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ )
dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian.”(Asy-Syura: 15).
Dia juga berfirman,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ )
“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Ma’idah:8).
Dalam ayat yang lain Dia juga berfirman,
وَإِذَا قُلْتُمْ فَأَعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى )
“Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)…” (Al-An’am: 152).
Dalam ayat yang pertama, Allah memerintahkan bersikap adil dan mewajibkannya atas hamba. Adil yang diperintahkan Allah mencakup adil di dalam hakNya dan adil di dalam hak hamba-hambaNya dan hendaklah hamba memperlakukan orang lain dengan penuh keadilan. Maka setiap penguasa harus menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, yang berada di bawah kekuasaannya, baik itu dalam kekuasaan kepemimpinan besar (khalifah), kekuasaan kehakiman, para menteri khalifah, dan para wakil hakim. Silahkan analogikan hal itu kepada kekuasaan yang dimiliki seorang pengajar atas para siswanya, karena dia memiliki kekuasaan atas anak-anak didiknya sesuai dengannya.
Dalam ayat yang kedua. Allah Saw memerintahkan RasulNya agar bersikap adil terhadap Ahli Kitab dan jangan sampai permusuhan vang ada ini menjadi penghalang dari bersikap adil di dalam hukum.
Demikian juga, ayat yang ketiga memberikan dorongan menegakkan keadilan terhadap musuh. Tidakkah Anda mendengar FirmanNya وَلَا يَحْرِ مَنْكُمْ شَمَتَانُ قَوْمٍ ) عال. ‘‘Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum…”
Maksudnya, jangan sampai kebencian kalian terhadap mereka membawa kalian kepada sikap tidak adil. Kemudian pada penutup ayat, Allah menyatakan bahwa mewujudkan dan menegakkan keadilan, walau kepada musuh sekalipun, merupakan sebab kesempurnaan takwa. Dan dalam FirmanNya ) هُوَ أَقْرَبُ التَّقوى ”( Adil itu lebih dekat kepada takwat)”.yakni semakin kalian gigih bersikap adil dan kalian berjuang keras untuk melakukannya, yang demikian itu lebih dekat kepada takwanya hati kalian. Jika sikap adil sempurna, maka sempurnalah ketakwaan.”
Dan pada ayat yang keempat, Allah memerintahkan agar bersikap adil terhadap kerabat dan juga orang jauh. Ibnu Katsir berkata, “FirmanNya,
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْنَى )
”Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun ia adalah kerabat(mu)…”. (Al-An’am: 152),
adalah seperti FirmanNya,”Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun ia adalah kerabat(mu)…”. (Al-An’am: 152),
adalah seperti FirmanNya,
يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَلِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِن يَكُن غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُواالهوى أَن تَعْدِلُوا وَإِن تَلُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksı, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kalian kerjakan”. (An-Nisa: 135).
Demikian juga ayat yang menyerupainya dalam Surat an Nisa, Allah memerintahkan bersikap adil dalam perbuatan dan perkataan terhadap kerabat dan yang bukan kerabat. Allah memerintahkan bersikap adil kepada setiap orang di setiap waktu dan setiap keadaan,
Dari pembahasan di atas tampak jelas bahwa bersikap adil di antara manusia merupakan perkara agung. Oleh karena itu ayat-ayat datang menjelaskan perkaranya dan mengagungkan kedudukannya. Dan Rasul kita telah memberikan permisalan yang sangat indah ketika beliau merealisasikan sikap adil dı tengah-tengah pribadi umatnya. Perhatikanlah hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Ra,
1). Dia bercerita, “Orang-orang Quraisy dipusingkan oleh perkara wanita Bani Makhzum yang mencuri. Mereka berkata, Siapa yang berani membicarakannya (memintakannya dispensasi) kepada Rasulullah? Mereka mengatakan, Siapakah yang berani kepada beliau selain Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah Maka Usamah pun berbicara kepada beliau, maka Rasulullah Berkata, ‘Apakah kamu akan memberikan syafa’at (untuk tidak memberlakukan) salah satu had (hukuman) Allah?” Kemudian beliau bangkit dan berpidato, kemudian bersabda,
إنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وإذا سرق فيهمُ الضَّعِيفُ أقاموا عليه الحد، وَأَيْمُ الله لَوْ أَن فاطمة بنت محمد سرقت، لقطعت يدها
”Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena jika ada orang terpandang di antara mereka mencuri mereka membiarkannya, namun jika ada orang lemah di antara mereka yang mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, sekiranya Fathimah, putri Muhammad mencuri, niscaya aku akan potong tangannya”.
Allahu Akbar! Lihatlah kepada orang yang merealisasikan sikap adil sampai kepada puncaknya: “Andainya Fathimah, putri Muhammad mencuri, niscaya aku akan potong tangannya”, dan mustahil Fatimah akan melakukan demikian.
2). Dari an-Nu’man bin Basyir, dia bertutur, “Bapak saya bersedekah kepada saya dengan sebagian hartanya. Ibu saya Amrah binti Rawahah berkata, ‘Saya tidak ridha hingga engkau menjadikan Rasulullah sebagai saksi. Bapak saya kemudian pergi kepada Nabi untuk menjadikannya sebagai saksi atas sedekahnya kepadaku. Rasulullah bertanya kepadanya,
أفعلت هذا بولدك كلهم.
‘Apakah kamu melakukan ini kepada anakmu seluruhnya?”
Dia menjawab, “Tidak. Maka Rasulullah saw bersabda,
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلادِكُمْ
Bertakwalah kepada Allah, dan berlaku adillah di antara anak anakmu.’
Maka bapak saya pulang dan mengembalikan sedekah tersebut. Dan dalam riwayat yang lain,
فلا تُشْهدني إذَا، فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جُوْرٍ
“Kalau begitu jangan jadikan saya sebagai saksi, sesungguhnya saya tidak memberikan kesaksian atas kezaliman”.
Para pengajar akan dihadapkan dengan banyak permasalahan dari para anak didiknya, baik dalam membagikan tugas dan pekerjaan rumah jika terdapat pekerjaan yang memerlukan kerja secara kelompok atau mengutamakan sebagian mereka dari sebagian yang lain dan yang sejenisnya. Sikap adil akan lebih ditekankan ketika mengoreksi dan memberikan nilai. Tidak ada tempat untuk mengasihi seorang pun atau mengutamakannya atas yang lain, baik dengan alasan kerabat atau kenalan atau perkara apa pun lainnya. Ini termasuk kezaliman yang dia dan pelakunya tidak diridhoi Allah, bahkan diancam dengan siksaan.
Cacatnya timbangan ini pada pengajar, yakni adanya pembedaan di antara siswa, adalah penyebab terciptanya kegoncangan, ketidakseimbangan, saling memusuhi dan benci di antara siswa, dan pemicu yang akan menciptakan adanya jurang yang luas antara guru dan anak didik lainnya yang terzhalimi. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus gigih mengusahakan dan mewujudkan sikap adil di antara anak didiknya supaya rasa persaudaraan dan saling cinta memasyarakat di antara mereka.
Wahai pengajar! Jika Anda memiliki ikatan kerabat atau pertemanan dengan salah seorang siswamu, maka janganlah ditunjukkan kecuali jauh dari pendengaran dan penglihatan siswa-siswa yang lain.
Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa beliau berkata, Seorang pengajar, jika tidak bersikap adil, maka dia dicatat sebagai salah satu di antara orang-orang zhalim.”
Dan diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa beliau berkata. “Jika pengajar diberikan gaji lalu tidak bersikap adil di antara mereka yakni para siswa-, dia dicatat sebagai salah satu di antara orang-orang zhalim.”
Kesimpulan:
Besarnya perkara adil, di mana Allah telah memerintah- kannya dan mewajibkannya terhadap kerabat dan yang bukan, juga terhadap musuh.
Urgensi mewujudkan keadilan di antara siswa, demi memasyarakatkan rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.
Sikap adil semakin ditekankan dan wajib ketika mengoreksi dan memberikan nilai.
Antusias mempertahankan hubungan kekerabatan dan pertemanan, namun ditunjukkan jauh dari pendengaran dan penglihatan siswa-siswa yang lain.