V

1. MENANAMKAN AKIDAH YANG BENAR DAN MEMANTAPKAN KUALITAS IMAN SISWA PADA SAAT PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Sedikit sekali guru yang memahami metode ini, yaitu memantapkan kualitas akidah pada diri siswa pada saat mereka mengajar materi-materi pelajaran alam, materi geografi, astronomi, dan yang semisalnya. Sebelum kita membawakan khabar dari guru pertama, mari perhatikan dan renungkan Kalam Allah Allah berfirman,

وَمِنْ آيَانِهِ : أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَشِعَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِ الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ )

“Dan di antara tanda-tandaNya (ialah) bahwa kamu melihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Rabb yang meng- hidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 39),

yakni ﴾ تَرَى الْأَرْضَ خَيْعَةٌ “kamu melihat bumi yang kering tandus” tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya ﴾ فإذا أنزلنا عليها الما “maka apabila Kami turunkan air di atasnya, انتزان “niscaya ia bergerak” yakni bergerak dengan tumbuhan-tumbuhan (yang tumbuh(, )ورت﴿ “dan subur, kemudian menumbuhkan tumbuh. tumbuhan yang indah, maka dengannya hamba dan negeri pun hidup. ﴾ إِنَّ الَّذِي أَحْيَامًا “Sesungguhnya Rabb yang menghidupkannya”. setelah kematian dan kevakumannya ﴾لَمَنِي الْمَونَ “pastilah dapat menghidupkan orang-orang yang mati” dari kubur mereka menuju Hari Kebangkitan mereka ) إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْ ءٍ قَدِيرٌ “sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”. Sebagaimana Dia mampu menghidupkan bumi setelah kematiannya, pasti mampu menghidupkan orang-orang yang mati.

Aduhai sekiranya kalau para guru mampu mengkorelasikan antara fenomena alam dengan perkara akidah. sebagaimana dijelaskan dalam ayat tadi, di mana Allah Swt menjelaskan kondisi tanah tandus yang tidak mendapat hujan, berupa kekeringan dan tumbuh-tumbuhan yang mati, dan pengaruh air terhadapnya jika telah datang dan mengguyurnya, sehingga mulai terlihatnya kehidupan di atasnya dan pergerakan tumbuhtumbuhan di dalamnya. Kemudian Allah Swt menjelaskan kepada hamba-hambaNya bahwa “penghidupan” yang disaksikan oleh hamba sama kondisinya pada Hari Kiamat, yaitu menghidupkan orang-orang yang mati, sebagaimana dalam penafsiran tadi sebagaimana FirmanNya, “Maka sebagaimana Dia mampu menghidupkan bumi setelah kematiannya, demikian juga Dia mampu menghidupkan orang-orang yang mati.”
Ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran Hari Kebangkitan. Sama seperti itu jika guru hendak berbicara tentang gunung, sangat baik apabila dia menyebutkan fungsinya dan hikmah dari penciptaannya, yaitu mengokohkan bumi dan mencegahnya dari kegoncangan, kemudian menyebutkan FirmanNya

أَلَمْ تَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا )

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An-Naba’: 6-7).

Dan FirmanNya,

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَنَهَا أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَنْهَا وَالْجِبَالَ أَرْسَهَا

“Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh.” (An- Nazi’at: 30-32).

Serta FirmanNya,

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ )وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ )

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Langit bagaimana ia ditinggikan? Gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” (Al-Ghasyiah: 17-19).

Al-Qur’an al-Karim banyak menyebutkan ayat-ayat yang seperti itu, dan apa yang telah kita sebutkan cukup bagi orang yang berakal. Dan alangkah baiknya sekarang kita beranjak kepada Sunnah al-Mushthafa Nabi untuk melihat bagaimana Nabi memantapkan kualitas akidah pada diri para sahabatnya.
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Nabi bersabda,

لا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ.

“Tidak ada penularan (penyakit), shafar, hamah,”

Seorang Badui berkata, “Wahai Rasulullah, lalu mengapa ada sekelompok unta (yang sehat) di padang pasir seolah-olah kijang, lalu dimasuki oleh unta yang berkudis, maka dia menjadikan unta-unta tersebut berkudis?” Rasulullah balik bertanya,

فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟

“Maka siapakah yang menulari yang pertama kali?”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Ucapannya ‘maka dia menjadikan unta-unta tersebut berkudis’ dibangun di atas keyakinan mereka akan adanya penyakit menular, yakni menjadi sebab terjadinya kudis pada unta-unta tersebut. Ini adalah mitos orang – orang jahil; mereka berkeyakinan bahwa orang yang sakit jika masuk pada kumpulan orang-orang yang sehat, dia akan menjadikan mereka sakit. Maka Allah menafikan hal itu dan membantahnya. Manakala sang badui membawakan syubhat tersebut Nabi mematahkannya dengan ucapan beliau, “Maka siapakah yang menulari yang pertama kali?” Ini adalah jawaban yang sangat mengena dan sangat indah.

Intinya, dari mana kudis yang datang kepada unta yang menurut mereka membawa penyakit menular itu? Jika dikatakan dari unta yang lain, maka konsekuensi jawabannya berantai atau adanya sebab yang lain dan harus diterangkan. Bila jawabannya “yang menularkan pada unta pertama dia jugalah yang menularkan pada unta kedua”, maka tercapailah apa yang diinginkan, yaitu bahwa yang melakukannya pada kesemuanya itu adalah Sang Khaliq Yang Mahakuasa atas segala sesuatu; Dialah Allah

Kesimpulan:

  1. Menanamkan akidah melalui ilmu-ilmu lain selain ilmu syar’i adalah sarana yang sangat bermanfaat untuk mengokohkan ikatan Muslim dengan agamanya pada setiap lini kehidupan.
  2. Cara ini secara umum dapat menguatkan kualitas iman siswa sehingga melahirkan generasi yang kuat akidahnya dan erat hubungannya dengan Rabbnya

2.MEMBERIKAN NASEHAT KEPADA ANAK DIDIK

Seorang guru keliru bila ia mengira bahwa hubungannya dengan siswa hanya sebatas menyampaikan materi saja, padahal sebenarnya ada perkara lain yang tidak kalah penting dari itu, yaitu memberikan nasihat dan arahan kepada siswa. Guru adalah pemberi arahan, pendidik, penasihat, dan bapak.

Seandainya kita adakan perbandingan antara jumlah waktu yang dihabiskan siswa bersama gurunya, yaitu mencapai lima atau enam jam setiap hari, tentunya akan kita temukan lebih banyak dari jumlah jam yang dihabiskannya bersama orang tuanya, dan ini sudah diketahui semua pihak. Jika perkaranya seperti itu, berarti guru dapat melihat hal-hal dan tingkah laku yang muncul dari siswa yang kadang-kadang samar atau bahkan benar-benar tidak diketahui orangtuanya. Oleh karena itu, sepantasnya, wahai guru, agar Anda mencurahkan segala kemampuan Anda untuk memperbaiki yang salah, meluruskan yang bengkok, membersihkan akhlak, dan membenarkan pemikiran. Dan kesemuanya itu bermuara pada pemberian nasihat Dan nasihat adalah istilah yang digunakan untuk ungkapan menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati. Memberikan nasihat adalah tuntutan syar’i sebelum menjadi tuntutan pengajaran dan pendidikan.

1). Dari Tamim bin Aus ad-Dari bahwa Nabi bersabda,

الدِّينُ النَّصِيْحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.

“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa waha Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, Rasul Nya, dan para pemimpin kaum Muslimin serta kalangan umum mereka. “

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Nasihat untuk kalangan umum kaum Muslimin adalah bersikap kasih terhadap mereka, mengusahakan apa yang akan mendatangkan manfaat buat mereka, mengajarkan apa yang bermanfaat untuk mereka, tidak menyakiti mereka, mencintai untuk mereka apa yang dicintai untuk dirinya, dan membenci untuk mereka apa yang dibenci untuk dirinya. ” Dan tentunya siswa di sini dari kalangan kaum Muslimin.

2). Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, dia berkata, “Saya membai’at Rasulullah agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap Muslim.

3). Dari Anas, dari Nabi, beliau bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya. “

Nash-nash dalam bab ini sangat banyak dan cukuplah bagi kita apa yang telah kita sebutkan. Ibnu Rajab berkata, “Di antara bentuk memberikan nasihat untuk mereka, adalah menepis gangguan dan kejelekan dari mereka, mengutamakan orang fakir mereka, mengajari orang jahil mereka, menuntun orang yang menyimpang di antara mereka dari kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan; bersikap santun ketika mengembalikan mereka kepada kebenaran, dan lemah lembut dengan mereka dalam hal beramar ma’ruf nahi mungkar, serta gemar menghilangkan kerusakan yang ada pada mereka. ”

Kemudian seharusnya guru memberikan nasihat kepada para siswanya secara empat mata, jika berkaitan dengan masalah pribadi tertentu, karena hal itu lebih mengena dan lebih cepat direspon. Adapun jika dilakukan di muka umum, ini merupakan penghinaan yang berbaju nasihat! Ibnu Rajab berkata, “Para as Salaf ash-Shalih jika hendak menasihati seseorang, mereka menasihatinya empat mata, sampai-sampai sebagian mereka mengatakan, ‘Barangsiapa menasihati saudaranya secara empat mata maka itulah nasihat, dan barangsiapa menasihatinya di hadapan umum, maka sebenarnya dia menjelekkannya’.”

Di antara nasihat yang harus disampaikan setiap guru kepada para anak didiknya adalah memeriksa Buku Tugas Sekolah dengan penuh amanah dan semangat ikhlas serta memperhatikan kesalahan-kesalahan ejaan, penulisan, dan yang sejenisnya. Nasihat sangatlah luas, akan tetapi dirangkum oleh sabda Nabi ﷺ

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

“Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga mencintai bagi saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya. “

Wahai guru, para orangtua telah menyerahkan kepada kalian buah hatinya dan belahan jiwanya, dia adalah amanah. Apa yang telah Anda perbuat terhadap amanah tersebut? Apa- kah Anda telah memperhatikan dan menunaikan hak amanah tersebut? Ataukah apa?

Kesimpulan:

Nasihat dan pengarahan tidak kalah penting dari ta’lim, maka berikanlah perhatian yang menjadi haknya.

Nasihat adalah tuntutan syar’i sebelum menjadi tuntutan pendidikan dan pengajaran.

Mengarahkan siswa dengan arahan yang benar, menuntunnya kepada apa yang berguna baginya, meluruskannya jika dia menyimpang dari jalan yang lurus, dan perkara-perkara lainnya; itu merupakan tugas dan kewajiban guru.

Memberikan nasihat secara empat mata adalah faktor di terima dan cepat diresponnya suatu nasihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *