14. MEMMGUNAKAN METODE DALAM KLASIFIKASI
Metode ini sangat langka ditemukan pada kalangan guru; sedikit sekali mereka yang menggunakannya di tengah-tengah penyampaian materi pelajaran. Yang saya maksudkan dengan metode klasifikasi adalah, guru terlebih dahulu mempelajari materi pelajaran yang hendak disampaikan kepada siswa kemudian mengklasifikasikannya menjadi beberapa bagian atau urutan atau kelompok atau beberapa poin silahkan Anda menamakannya sesuai selera Anda baru kemudian menyajikannya kepada siswa. Tidak samar lagi bagi kita akan adanya faidah besar yang dikandung oleh metode ini bagi siswa, karena metode ini menjadikan siswa menguasai pembahasan dari semua sisidan sudutnya, serta menjadikannya mampu menghafal pelajaran dan menguasainya dengan cepat, di samping menjaga dan memelihara pelajaran dari kelupaan. Jika siswa lupa sebagian pelajaran kemudian ingat bahwa jumlahnya sekian atau bagian bagiannya sekian, maka hal itu akan membantunya mengembalikan pelajaran yang hilang. Barangkali orang yang membaca buku-buku fikih akan melihat berbagai macam bentuk klasifikasi; ada syarat-syarat, wajib-wajib, rukun-rukun, larangan-larangan, dan seterusnya. Semua bentuk klasifikasi ini tidak pernah di- tunjukkan oleh satu nash pun dari Nabi yang ma’shum,, ia hanyalah semata diciptakan oleh para ahli ilmu dan ahli fikih, untuk mendekatkan pemahaman ilmu bagi para penuntutnya, menghimpun materi-materinya, dan menyatukan bagian-bagiannya sehingga mudah bagi para pembacanya untuk menghafal dan memuraja’ahnya. Nabi pernah melakukan hal seperti itu:
1). Dari Abu Hurairah, dari Nabi beliau bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلَّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابًا نشأ فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ.
“Tujuh kelompok orang yang akan dinaungi Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabbnya, laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang laki-laki yang saling mencinta di jalan Allah; berkumpul karenaNya dan berpisah karenaNya, laki-laki yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik lalu mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah, laki-laki yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan laki-laki yang mengingat Allah seorang diri lalu kedua matanya berlinang air mata. ”
2). Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, Nabi bersabda,
أَرْبَعُ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدْعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.
“Ada empat perkara yang barangsiapa keempat perkara itu ada padanya, maka dia adalah seorang munafik yang murni, dan barangsiapa yang ada padanya satu sifat darinya, maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai akhirnya dia meninggalkannya: Jika dipercaya niscaya dia berkhianat, jika berbicara niscaya dia berdusta, jika berjanji niscaya dia melanggar, dan jika dia memusuhi niscaya dia melampaui batas. “
Hadits-hadits dari Nabi dalam hal itu sangat banyak sekali; seandainya kita hitung sebagiannya, tentu akan memakan banyak tempat, dan apa yang telah kita sebutkan, insya Allah mencukupi dan mewakili
Kemudian jika kita merincikan perhatian pada hadits Nabi , niscaya akan kita temukan bahwa Nabi menyebutkan jumlah secara global terdahulu, baru kemudian menyebutkan dengan terperinci. Tidak diragukan lagi bahwa metode ini lebih menarik hati dan lebih bagus dari segi penataan dan penyajiannya. Para guru semestinya menempuh metode ini, jika mereka ingin memudahkan transfer ilmu dan membuatnya sederhana bagi siswa-siswa mereka.
Kesimpulan:
- Metode klasifikasi membantu menghafal pelajaran dan menjaganya dari lupa.
- Metode ini menuntut kecermatan dan kepintaran guru.
- Disarankan ketika menggunakan metode ini, agar terlebih dahulu menggunakan cara menyebutkan secara global, baru kemudian masuk kepada perincian.
15. MENGGUNAKAN METODE TANYA JAWAB PADA SAAT MENGAJAR
Untuk menarik perhatian siswa, guru memerlukan sarana yang beraneka dan metode yang beragam. Guru harus memvariasikan antara sarana-sarana tersebut supaya siswa tidak gemar dengan satu metode tertentu, lalu terbiasa dengannya kemudian hal itu tidak memberikan kesan dan pengaruh padanya, dengan dasar hukum kebiasaan. Di antara sarana menarik perhatian yang dibutuhkan guru adalah menggunakan metode pertanyaan di awal pembicaraan atau di tengah-tengah pembicaraan, untuk menarik perhatian siswa dan memotivasinya untuk menghadirkan pikiran. Hal tersebut diperjelas oleh hadits Muttafaq ‘alaih.
1). Rasulullah bersabda,
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ.
“Maukah kalian aku beritakan dosa besar yang paling besar?”Kami (para sahabat) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orangtua, … (dan seterusnya).”
Ungkapan )آلا( “Maukah” adalah kata tanya yang berfungsi untuk mengingatkan dan memberikan motivasi untuk menang- kap apa yang disampaikan dan memahaminya sesuai dengan yang wajah esensinya.
2). Dalam khutbah Nabi di Mina pada Haji Wada’, beliau bersabda,
أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ فَسَكَتَنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ سِوَى اسْمِهِ. قَالَ: أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ فَسَكَتْنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيْهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ. فَقَالَ: أَلَيْسَ بِذِي الْحِجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى. قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا …..
“Hari apakah ini?” Kami pun diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya. Beliau bersabda, “Bukankah hari an-Nahr (menyembelih)?” Kami menjawab, “Ya, benar.” Beliau berkata, “Lalu bulan apakah ini?” Kami pun diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya. Beliau bersabda, “Bukankah Dzul Hijjah?” Kami menjawab, “Ya, benar.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian,harta kalian, dan kehormatan kalian haram di antara kalian seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini… (dan seterusnya).”
Al-Qurthubi berkata, “Pertanyaan beliau tentang tiga perkara tersebut serta diamnya beliau Saw setelah setiap pertanyaan, adalah untuk menghadirkan pemahaman mereka, dan agar mereka menghadapkan diri mereka kepadanya secara total, serta supaya mereka dapat merasakan agungnya apa yang disampaikan kepada mereka. Oleh karena itu, beliau bersabda setelah itu, “Sesungguhnya darah kalian... (dan seterusnya),” untuk membesarkan pengharaman perkara-perkara ini.
3). Dari Abu Hurairah bahwa para sahabat bertanya,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : هَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ؟ قَالُوا : لَا ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوا: لَا ، يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ، يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُوْلُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ ..
“Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada Hari Kiamat?” Maka Rasulullah bersabda, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat bulan di malam purnama?” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Nya seperti yang demikian itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman, ‘Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah mengikutinya…(dan seterusnya)’, “
Dapat diperhatikan dalam contoh-contoh tersebut, bahwa Rasulullah tidak menunjuk orang tertentu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan, akan tetapi ungkapan-ungkapan beliau pada umumnya menggunakan bentuk jamak secara umum. Ini memberi kita pelajaran bahwa guru semestinya melontarkan pertanyaan terlebih dahulu, agar para siswa secara keseluruhan ikut ambil bagian dalam menemukan jawaban bagi pertanyaan yang dilontarkan tersebut. Kemudian dianjurkan bagi guru agar memberikan waktu yang cukup sebelum mulai mendengar jawaban siswa, yang demikian itu karena kemampuan akal siswa berbeda-beda dan tidak sama satu dengan yang lainnya; sebagian mereka ada yang cepat dan sebagian lagi ada yang lebih lambat menghadirkan akalnya. Dengan ini tampaklah bagi Anda kesalahan yang dilakukan sebagian guru, yaitu memberikan pertanyaan kepada siswa sesuai urutan absensi atau sesuai urutan tempat duduk mereka di dalam kelas, karena metode ini menjadikan siswa lain yang tidak mendapatkan bagian, tidak merasa ikut terbebani dengan beban mencari jawaban, karena merasa cukup (dihadapi) oleh siswa yang ditunjuk oleh guru. Ya, adakalanya guru bertanya kepada sebagian siswanya dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti guru bermaksud menge jutkan siswa tertentu untuk menguji kondisinya atau mengingatkannya dari kelalaiannya dan semisalnya.
Telah datang keterangan bahwa Nabi bertanya kepada sebagian sahabat dalam beberapa masalah yang berbeda, dan ini posisinya ketika Nabi ﷺ seorang diri bersama sahabat tersebut sebagaimana telah datang keterangan dalam hadits Mu’adz tersebut.
4). Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi berkata dan Mu’adz di belakang beliau di atas kendaraan (keledai)-,
يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: يَا مُعَاذُ. قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ. ثَلَاثًا . قَالَ :
“Wahai Mu’adz bin Jabal!” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu dengan bahagia wahai Rasulullah.” Beliau berkata lagi, “Wahai Mu’adz!” Dia menjawab, “Aku penuhi panggilanmu dengan bahagia wahai Rasulullah,” (tiga kali). Beliau bersabda, ….
Kesimpulan:
- Metode pertanyaan adalah metode yang sangat efektif untuk menarik perhatian pendengar dan mempersiapkannya untuk menerima apa yang disampaikan kepadanya.
- Adakalanya pertanyaan dilontarkan di awal pelajaran dan bisa juga di tengah-tengahnya, sesuai dengan tuntutan kebutuhan.
- Hendaknya guru melontarkan pertanyaan kepada para siswanya secara umum kemudian memberikan waktu yang cukup untuk menghadirkan jawaban, kemudian baru menentu- kan siswa yang akan menjawab pertanyaan tersebut.
- Tidak menunjuk siswa tertentu sebelum melontarkan per tanyaan, karena itu akan menghilangkan keikutsertaan aktifitas otak siswa-siswa yang lain karena mencukupkan diri dengan teman mereka yang ditunjuk.
- Guru hendaknya menunjuk siswa tertentu sebelum me- lontarkan pertanyaan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika guru hendak mengetahui kemampuan siswa menjawab dengan cepat, atau mengingatkan siswa dari kelalaian atau tidur dan semisalnya, akan tetapi jangan sampai guru menjadikan cara ini sebagai kebiasaannya.