16. MELONTARKAN BEBERAPA PERMASALAHAN ILMIAH YANG PENTING UNTUK MENGUJI KEMAMPUAN OTAK SISWA

Melontarkan beberapa permasalahan untuk menguji siswa secara umum memiliki faidah besar dalam mengembangkan pengetahuan dan memantapkan pemahaman. Metode paling baik untuk menggunakannya adalah guru melontarkan masalah dalam bentuk kolektif, dan memberi sedikit waktu untuk mengingat-ingat pelajaran (yang telah lalu) dan memikirkan masalah tersebut, kemudian meninggalkan jawaban pertanyaan yang dilontarkan untuk (dijawab) siswa. Dan as-Sunnah penuh dengan jenis ilmu seperti ini:

1). Dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, dari Nabi , beliau bersabda,

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُوْنِي مَا هِيَ؟ قَالَ: فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: وَوَقَعَ في نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ: هِيَ النَّخْلَةُ.

“Di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya dan dia seperti seorang Muslim, beritahukan kepadaku pohon apakah itu?” Maka orang-orang langsung teringat pada jenis pohon yang ada di pedalaman. Abdullah berkata, “Maka terbetik di hatiku bahwa pohon itu adalah kurma, namun aku merasa malu (untuk menyampaikannya).” Kemudian mereka berkata, “Beritahukan kepada kami pohon apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ia adalah pohon kurma, “

Al-Baghawi berkata, “Al-Imam berkata, ‘Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa diperbolehkan bagi guru untuk melontari kan permasalahan kepada para siswanya yang dia pergunakan untuk menguji kemampuan ilmu mereka’. ”

Ibnu Hajar berkata, “Di dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran… yaitu guru menguji kemampuan otak siswa dengan sesuatu yang samar disertai penjelasan untuk mereka jika mereka tidak memahaminya, … di dalamnya juga terdapat motivasi untuk memahami ilmu. ”

Hendaknya guru selektif dalam memilih soal-soal yang dilontarkan kepada para siswanya. Demikian juga dia bisa memperkenankan diskusi dan mengajukan pendapat di antara para siswa. Tidakkah Anda melihat perkataannya )فَوْقَعَ النَّاسُ في شجر البوادي “Maka orang-orang langsung teringat kepada jenis pohon di pedalaman”, hal itu menunjukkan bahwa mereka semua menafsirkan pertanyaan yang sulit ini dengan banyak penafsiran. Al-Hafizh berkata, “Maksudnya pikiran mereka melayang ke pohon pohonan di pedalaman, lalu mulailah masing-masing mereka menafsirkannya dengan jenis dari jenis-jenis pohon di sana, sementara mereka lupa akan pohon kurma. ”

Orang yang mencermati permasalahan yang dilontarkan Nabi kepada mereka akan menemukan bahwa pertanyaan tersebut telah mendongkrak semangat mereka dan mendorongnya untuk memikirkan pemecahan jawabannya serta jiwa mereka haus untuk mengetahui jawaban yang benar dari Rasulullah manakala mereka tidak mampu menemukan jawabnya.

Juga, di antara perkara penting yang mesti dikuasai adalah, agar permasalahan ini membentuk pemikiran tertentu atau memantapkan pemahaman tertentu pada siswa. Anda boleh bertanya apa sisi kemiripan antara pohon kurma dengan seorang Muslim? Atau apa faidah yang bisa diambil dari pertanyaan ini? Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menjelaskannya dengan perkataannya, “Berkah pohon kurma ada pada setiap bagiannya dan terusmenerus pada setiap keadaannya, mulai dari sejak muncul hingga kering bisa dimakan dengan berbagai jenisnya, kemudian setelah itu semua bagiannya dapat dimanfaatkan sampai bijinya untuk pakan ternak dan serabutnya untuk dijadikan tali dan lainnya yang tidak samar lagi bagi kita. Demikian juga berkah seorang Muslim pada umumnya di seluruh keadaannya; dan kemanfaatnya berlaku secara terus-menerus, baginya dan bagi selainnya, sampai setelah matinya. ”

Metode ini sangat bermanfaat jika difungsikan dan dimanfaatkan dengan baik, maka hendaknya guru menghindari permasalahan-permasalahan yang rumit dan hendaklah tidak menjadikan tekad kuatnya untuk membuat lemah murid dan membungkam mereka, bahkan semestinya dia mendekatkan (jawaban permasalahan) yang dilontarkan kepada mereka dengan menyebutkan indikasi-indikasi kondisi dan sarana-sarana lainnya agar dapat membantu mereka menemukan jawaban yang benar. Dan yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Rasulullah ketika melontarkan permasalahan ini kepada mereka, maka di tangan beliau ada buah kurma. Di salah satu riwayat hadits ini, dari Mujahid, dia berkata, “Aku menemani Ibnu Umar dalam perjalanan ke Madinah, dan aku tidak mendengarnya menceritakan dari Rasulullah kecuali satu hadits, Dia berkata, ‘Kami berada di sisi Nabi ﷺ lalu didatangkan kepada beliau buah kurma, maka beliau bersabda,… (dan seterusnya)”, ”

Ibnu Umar mengerti apa yang beliau maksudkan ketika melihat buah kurma di tangan Rasulullah, dan tidak ada yang menghalanginya untuk menjawab pertanyaan tersebut kecuali karena usianya yang masih muda.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang yang memberikan teka-teki seharusnya tidak berlebih-lebihan dalam menutupi (jawabannya), di mana dia tidak memberikan untuk bahan teka- tekinya satu celah pintu yang dapat dimasuki. Akan tetapi semakin dia mendekatkan (jawaban)nya, maka akan semakin terkesan dalam diri pendengarnya. ”

Kesimpulan:

  1. Urgensi metode ini dalam menguatkan daya paham dan meluaskan pengetahuan.
  2. Mengambil manfaat dari metode tanya jawab ini untuk memantapkan makna-makna tertentu di dalam otak.
  3. Mendekatkan (jawaban) soal yang dilontarkan dengan menyebutkan sebagian sifat dan kondisi-kondisi itu dapat mem- bantu menemukan jawaban.
  4. Menjelaskan jawaban yang benar ketika siswa tidak mampu mendatangkan jawaban.

17. GURU MEMOTIVASI SISWA UNTUK  MENGAJUKAN PERTANYAAN

Pertanyaan dapat menghilangkan banyak kesalahan dan kekeliruan yang kadang-kadang siswa terjatuh di dalamnya, di mana ketika guru memaparkan penjelasan materi pelajarannya, dia tidak mengetahui dengan pasti, apakah mereka telah memahami materi pelajarannya sebagaimana mestinya ataukah tidak? Dan cara untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya kepada mereka tentang sebagian materi yang telah dipaparkan, dan lebih bagus dari itu jika siswa yang memulai bertanya kepada gurunya tentang apa yang masih menjadi problem baginya. Dan ‘bertanya’ itu dapat memperjelas makna-makna yang tidak mampu untuk dipahami dan dihayati oleh siswa, dan dapat memantapkan jawaban di otak penanya karena darinya timbul pertanyaan. Bertanya dapat menghilangkan kejahilan sebagai- mana yang disabdakan,

فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ.

“Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya. ”                            

Kata )العي( dengan mengkasrahkan huruf ‘ain dan mentasy- didkan huruf ya` artinya ngelantur dalam berbicara dan tidak akurat, demikian disebutkan dalam ash-Shihah. Dan di dalam an-Nihayah dan Lisan al-Arab )العي( adalah kejahilan, dan maknanya bahwa kejahilan adalah penyakit, dan pengobatannya adalah bertanya dan belajar.Lantaran itu kita katakan kepada guru agar mau memotivasi para siswanya untuk bertanya kepadanya. Hal itu telah disebutkan oleh guru besar kita, semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepadanya sampai Hari Kiamat,
1). Dari Anas bin Malik, bahwa para sahabat menghujani Nabi dengan berbagai pertanyaan. Pada suatu hari bujani keluar lalu naik ke mimbar seraya bersabda,

سَلُوْنِي لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا بَيْنَتُهُ لَكُمْ.

“Bertanyalah kalian kepadaku! Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu melainkan pasti aku menjelaskannya kepada kalian.

2). Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah bersabda,

سَلُوْنِي فَهَابُوْهُ أَنْ يَسْأَلُوْهُ فَجَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ عِنْدَ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْإِسْلَامُ…..

“Bertanyalah kalian kepadaku!” Maka mereka merasa takut (sung- kan) untuk bertanya kepada beliau, sehingga datang seorang laki- laki lalu duduk pada kedua lututnya sambil berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?…” Al-hadits.

3). Dari Said bin al-Musayyab, dia berkata, “Tidak seorang pun dari manusia yang berucap ‘Bertanyalah kepadaku!’ selain Ali bin Abi Thalib… Dan telah kami riwayatkan dari al-Hasan bahwasanya dia memulai perjumpaan dengan manusia dengan ilmu dan berkata, ‘Bertanyalah kepadaku!”

4). Dari Said bin Jubair dia bertutur, “Kami berada di sisi Ibnu Abbas di rumahnya ketika dia berkata “Bertanyalah kalian kepadaku!” Saya berkata, “Wahai Ibnu Abbas, semoga Allah jadikanku sebagai jaminanmu….”

Di dalam atsar-atsar di atas terdapat anjuran agar guru mengucapkan “bertanyalah kepadaku!”. Di mana dalam ucapan ini terkandung motivasi bagi siswa untuk bertanya; mendorong siswa yang pemalu agar berani bertanya kepada gurunya; orang lain dapat mengambil manfaat dari pertanyaan yang diajukan; guru dapat mengetahui kemampuan siswa-siswanya di dalam menangkap materi yang dijelaskan. Dan harus diperhatikan oleh
guru dalam pertanyaan-pertanyaan siswa yang muncul dari mereka itu hendaklah memiliki faidah, dan bukan untuk menampakkan kelemahan (guru) atau mengolok-olok atau mengejek. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dan yang semisalnya sepantasnya dicampakkan ke tanah dan tidak ada kemuliaan bagi pelakunya.

Kesimpulan:

  1. Bertanya akan menghilangkan selimut kejahilan dan meluruskan makna dan pemahaman.
  2. Dorongan dan motivasi guru kepada muridnya agar mengajukan pertanyaan itu mengandung banyak faidah, di antaranya:

a). Menilai kondisi siswanya dari segi daya paham;

b). Mendorong dan memberanikan siswa yang pemalu untuk mengajukan pertanyaan.

c). Siswa yang lain dapat memperoleh manfaat ketika mendengar jawaban.

d). Penawaran guru (kepada murid) untuk (bertanya pada) dirinya di awal pertemuan, dan peninjauan kembali terhadap cara penyampaian materi pelajarannya, ketika tampak baginya dari ketidakpahaman siswa sebagaimana yang seharusnya dari sela-sela pertanyaan.

  1. Menolak pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan menampakkan kelemahan guru atau pertanyaan-pertanyaan yang mengolok serta mengecam, dan harus menegur pelakunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *