20. UCAPAN GURU “SAYA TIDAK TAHU” PADA AΡΑ YANG TIDAK DIKETAHUINYA, ADALAH BAGIAN DARI ILMU
Allah telah mencela orang-orang yang berbicara tanpa dasar ilmu serta mencaci mereka di dalam KitabNya dan juga lewat lisan RasulNya . Yang demikian itu, karena orang yang berbicara tanpa dasar ilmu akan menyesatkan, tidak memberi petunjuk; merusak, dan tidak memperbaiki. Dan ucapan seseorang “saya tidak tahu” pada apa yang tidak diketahui dan tidak dimengerti bukanlah aib (cela), dan tidak pula akan mengurangi ilmu dan kedudukannya, bahkan sikap tersebut merupakan
bukti kesempurnaan ilmunya. Ketika Allah bertanya kepada para rasulNya pada Hari Kiamat,
مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنتَ عَلَمُ يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا ا الْغُيُوبِ )
“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?’ Para Rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib’.” (Al-Ma’idah: 109),
yakni apa jawaban umat kalian terhadap kalian? ) قَالُوا لَا عِنْدَ Mereka menjawab, “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu), sesungguhnya ilmunya adalah milikMu, wahai Rabb kami. Engkau lebih mengetahui daripada kami.
( إِنَّكَ أَنتَ عَلَيْمُ الْغُيُوبِ﴿, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui perkara yang ghaib.” Maksudnya: Engkau mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang hadir. ”
Dan ketika Allah bertanya kepada para malaikatnya, dengan FirmanNya,
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِتُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ )
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepadaku nama-nama benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar! Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau lah yang Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Al Baqarah: 31-32).
Mereka para malaikat tidak merasa malu untuk mengembalikan pengetahuan yang tidak mereka ketahui kepada Dzat yang mengetahuinya.
Ilmu adalah lautan yang tidak memiliki tepi, dan tidak akan menguasainya kecuali Dzat Yang ilmuNya menguasai segala sesuatu, sementara seluruh manusia, perbendaharaan mereka dalam ilmu adalah sedikit. Allah swt berfirman,
(وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) “
...dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra`:85)
Jika perkaranya seperti yang demikian itu, maka tidak (perlu) ada malu dan tidak juga cela jika guru atau yang lainnya mengucapkan “Saya tidak tahu”.
Al-Mawardi dalam Adab ad – Din wa ad – Dunya berkata, “Jika tidak ada jalan untuk menguasai seluruh ilmu, maka tidak ada cela untuk jahil pada sebagiannya, dan jika tidak ada cela dalam jahil pada sebagiannya maka tidak boleh dihina untuk mengatakan ‘Saya tidak tahu’ pada apa yang tidak diketahuinya.”
Sungguh kejelekan yang paling buruk adalah menipu dan mengelabui manusia dengan perkataan salah dan keliru. Dan para siswa, walaupun mereka dikelabui oleh guru mereka dengan memberi mereka pengetahuan yang salah untuk selamat dari situasi tertentu, akan tetapi mereka akan mengetahui hal itu, baik cepat maupun lambat. Dari sana wibawanya akan runtuh di mata mereka, dan mereka tidak akan percaya kepadanya setelah itu terhadap pelajaran dan materi yang disampaikan kepada mereka.
Guru besar pernah mengatakan “Saya tidak tahu” pada perkara yang tidak diketahuinya hingga wahyu datang memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Perkataan orang yang hasad ataupun munafik tidak membuat beliau menyurutkan diri untuk mengucapkan kata tersebut. Maka perhatikan dan renungkanlah, niscaya berbagai perkara akan menjadi mudah bagimu!
1). Beliau bersabda,
لَا تُخَبِرُونِي عَلَى مُوسَى، فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُوْنَ، فَأَكُوْنُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا مُوسَى بَاطِشُ جَانِبَ الْعَرْشِ، فَلَا أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ فَأَفَاقَ قَبْلِي، أَوْ كَانَ مِمَّنِ اسْتَثْنَى اللَّهُ.
“Jangan kalian mengutamakanku atas Musa. Sesungguhnya manusia akan pingsan, lalu aku adalah orang pertama yang terjaga; maka ternyata Musa sedang memegang kuat sisi Arasy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang-orang yang pingsan lalu terjaga sebelumku ataukah termasuk dari orang-orang yang dikecualikan Allah. “
2). Dari Ibnu Umar, dia berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ؟ قَالَ: لَا أَدْرِي، فَقَالَ: أَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ؟ قَالَ: لَا أَدْرِي. قَالَ: سَلْ رَبَّكَ. فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا جِبْرِيلُ، أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ؟ قَالَ: لَا أَدْرِي، قَالَ: أَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ؟انْتِقَاضَةً كَادَ يُصْعَقُ مِنْهَا مُحَمَّدٌ فَقَالَ: مَا أَسْأَلُهُ عَنْ شَيْءٍ، فَقَالَ اللَّهُ لِجِبْرِيلَ: سَأَلَكَ مُحَمَّدٌ أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ؟ فَقُلْتَ: لَا أَدْرِي، وَسَأَلَكَ أَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ؟ فَقُلْتَ: لَا أَدْرِي، فَأَخْبِرْهُ أَنَّ خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ، وَأَنَّ شَرَّ الْبِقَاعِ الْأَسْوَاقُ.
“Wahai Rasulullah, bagian bumi mana yang paling baik?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu.” Dia bertanya lagi, “Bagian bumi mana yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu.” Dia berkata, “Tanyakanlah kepada Rabbmu.” Lalu Jibril datang kepada beliau, maka beliau bertanya, “Wahai Jibril, bagian bumi mana yang paling baik?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Beliau bertanya, “Bagian bumi mana yang paling buruk?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Beliau bersabda, “Tanyakanlah kepada Rabbmu.” Jibril bergetar sampai-sampai Muhammad hampir dibuat pingsan karenanya. Jibril berkata, “Aku tidak pernah bertanya kepadaNya tentang sesuatu pun.” Maka Allah berfirman kepada Jibril, “Muhammad telah bertanya kepadamu: bagian bumi mana yang paling baik? Lalu kamu menjawab aku tidak tahu. Dan dia telah bertanya kepadamu bagian bumi mana yang paling buruk? Lalu kamu menjawab aku tidak tahu. Maka beritahukan kepadanya bahwa sebaik-baik bagian bumi adalah masjid dan seburuk-buruk bagian bumi adalah pasar. “
Adapun para anak didik Muhammad, mereka telah memberikan contoh paling indah dalam hal berteladan dengan guru mereka. Inilah Abu Bakar ash-Shiddiq, dia berkata, “Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan menopangku, jika aku berkata tentang Kitab Allah tanpa dasar ilmu?”
Dan inilah Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Sesungguhnya merupakan bagian dari ilmu jika kamu mengatakan, ‘Allahu a’lam (Allah lebih mengetahui)’, pada apa yang tidak kamu ketahui, Allah berfirman kepada NabiNya,
قُلْ مَا أَسْتَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ )
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun padamu atas dakwahku, dan aku bukanlah termasuk orang- orang yang mengada-adakan’.” (Shad: 86).
Serta inilah Ali bin Abi Thalib, dia berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh asy-Sya’bi darinya, dia keluar kepada manusia dan berkata, “Betapa ia menyejukkan hati?!” Dikatakan kepadanya, “Apakah itu?” Dia berkata, “Kamu mengatakan, ‘Allahu a’lam’, pada sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Inilah Ibnu Umar, dia berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi’ darinya, bahwa dia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka dia menjawab, “Saya tidak tahu.” Manakala laki-laki itu telah pergi, maka dia (Ibnu Umar sendiri) berkata, “Sebagus-bagus yang dikatakan Abdullah bin Umar ketika dia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak memiliki ilmunya. “Pembicaraan seputar perkataan-perkataan para sahabat dan salaf sangatlah panjang, dan apa yang telah disebutkan semoga men cukupi dan mengobati.
Seorang penyair berkata,
Jika engkau tidak tahu apa yang ditanyakan kepadamu
Dan kamu tidak memiliki ilmunya
Maka jangan berkata di dalamnya tanpa dasar ilmu karena salah adalah dosa bagi ahli ilmu
Katakan jika perkara itu tidak diketahui olehmu
aku tidak memiliki ilmu tentang apa yang kamu tanya
Itu adalah setengah ilmu menurut ulama demikian juga senantiasa dikatakan para orang bijak.
Kesimpulan:
- Orang yang berbicara tanpa dasar ilmu selamanya tercela di dalam Kitab Allah dan melalui lisan RasulNya.
- Orang yang berbicara tanpa dasar ilmu adalah merusak, tidak memperbaiki.
- Tidak tahu bukanlah aib, dan bukan pula cacat bagi guru.
- Perasaan tidak enak dan malu (takut) dari mengatakan
“saya tidak tahu” bukanlah sebab yang bisa diterima untuk terus
menyampaikan pengetahuan yang salah kepada murid. Hendaknya guru wajib menanamkan prinsip ini pada jiwa anak didiknya dan menekankannya.
6. Ucapan “saya tidak tahu” adalah bagian dari ilmu, bahkan Abu ad-Darda berkata tentangnya bahwa ia adalah setengah dari ilmu.