1. MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK MENERIMA PELAJARAN 

Tidak akan ada perselisihan antara dua orang bahwa keberpalingan siswa dan kesibukannya dari gurunya, karena sebab apa pun, adalah penghalang baginya untuk memperoleh ilmu dan merupakan sebab yang akan menghalanginya untuk memahami penjelasan gurunya; dan bahwa konsentrasi siswa secara total kepada gurunya adalah unsur penting di dalam menghasilkan ilmu dan memahaminya dengan cara yang benar. Karena itu, dianjurkan bagi guru untuk menarik perhatian anak didiknya kepadanya dari waktu ke waktu. Guru dapat menggunakan beberapa metode dan taktik-taktik yang beragam untuk menarik perhatian anak didiknya kepadanya. Kita cukupkan dengan menyebutkan tiga metode saja, dan silahkan Anda mencari yang lainnya:

A. Metode meminta diam; yaitu meminta siswa untuk diam dan menyimak dengan seksama. Metode ini bersifat langsung, umumnya digunakan sebelum mulai menyampaikan materi pelajaran dan ketika metode-metode yang lain yang bersifat tidak langsung tidak memungkinkan. Hal itu dijelaskan oleh hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali,

  1. 1(. Nabi ﷺ berkata kepadanya ketika Haji Wada

‘, إِسْتَنْصِتِ النَّاسَ فَقَالَ: لَا تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Mintalah agar orang-orang diam!” Lalu beliau bersabda, “Janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku; sebagian kalian membunuh sebagian yang lain.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yang demikian itu dikarenakan khutbah tersebut pada Haji Wada’, ketika massa yang berkumpul sangat banyak sekali, dan mereka berkumpul untuk melempar jumrah dan aktifitas haji yang lainnya. Maka, manakala beliau berkhutbah kepada mereka untuk mengajari mereka, sangat tepat bila beliau memerintahkan agar mereka diam. ”

Jika Anda perhatikan hadits tersebut, dan juga perkataan al-Hafizh, tentunya akan tampak bagi Anda dasar yang melatar- belakangi Nabi untuk meminta Jarir bin Abdillah al-Bajali supaya meminta orang-orang diam. Di mana pada musim haji, orang-orang sangat banyak dan mereka sangat sibuk menunaikan manasik mereka, karena itu sangat tidak mungkin Nabi berpidato kepada mereka dan mengajari mereka urusan agama mereka sementara mereka dalam kondisi seperti itu, maka sangat tepat bila beliau memerintahkan Jarir bin Abdillah al-Bajali untuk meminta orang-orang untuk diam.

B. Metode panggilan (sistem langsung); cara ini dipergunakan ketika memanggil siswa sebelum memulai pelajaran, dan kadang-kadang dipergunakan di tengah-tengah pelajari Metode ini banyak digunakan oleh guru. Contohnya adalah:

  1. 1). Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Nabi naik ke mimbar, dan saat itu adalah majelis terakhir yang beliau hadiri, beliau mengenakan selimut yang dililitkan di kedua pundaknya, dan kepala beliau tertutup sorban warna hitam. Beliau memuji Allah dan menyanjung Nya, kemudian bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِلَيَّ. فَثَابُوا إِلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ هَذَا الْحَيَّ مِنَ الْأَنْصَارِ يَقِلُّوْنَ، وَيَكْثُرُ النَّاسُ، فَمَنْ وَلِيَ شَيْئًا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ فَاسْتَطَاعَ أَنْ يَضُرَّ فِيهِ أَحَدًا فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ، وَيَتَجَاوَزْ عَنْمُسِيئِهِمْ.

“Wahai sekalian manusia, mendekatlah kepadaku.” Mereka pun berkumpul kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kampung Anshar akan berkurang penduduknya, sementara manusia akan semakin banyak. Maka barangsiapa yang berkuasa atas sesuatu dari umat Muhammad lalu di dalamnya dia bisa menyakiti seseorang, hendaklah menerima yang baik dari mereka dan memaafkan yang berbuat tidak baik dari mereka. ”

Di dalam hadits ini kita dapat cermati sabda beliau, “Wahai sekalian manusia, mendekatlah kepadaku,” yang merupakan panggilan dari beliau dan perintahnya kepada mereka agar berkumpul dan menyimak dengan seksama apa yang akan disampaikan kepada mereka. Perkataannya تَابُوا إليه maksudnya berkumpul )kepadanya). Dan تاب الناس maksudnya orang-orang berkumpul dan datang.

C. Metode memotivasi untuk mendengar dan menyimak dengan seksama (sistem tidak langsung); metode ini sangat bagus untuk menarik jiwa dan memotivasinya untuk mendengarkan secara seksama, karena jiwa manusia pada umumnya enggan dan menjauhi ungkapan-ungkapan dalam bentuk pe. rintah dan pengharusan. Karena itu, sangat tepat bila guru meng. gunakan metode-metode yang bersifat tidak langsung dalam menarik dan mengundang indra siswa supaya tercapai proses pengambilan ilmu dengan jiwa yang nyaman. Guru besar telah memberikan kita contoh paling indah dalam menjelaskan cara ini:

1). Dari Ubadah bin ash-Shamit, beliau berkata, Rasulullah bersabda,

خُذُوا عَنِّي، خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا. الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْي سَنَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ، جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ.

“Ambillah dariku! Ambillah dariku! Allah telah membuatkan mereka jalan keluar. Perjaka (yang berzina) dengan perawan, (hukumnya adalah) dera seratus kali dan pengasingan setahun, dan laki-laki yang sudah pernah menikah (yang berzina) dengan wanita yang sudah pernah menikah (hukumnya adalah), dera seratus kali dan rajam. “

Anda bisa mencermati sabda beliau, “Ambillah dariku! Ambillah dariku!” mengandung unsur menarik dan mencuri hati
serta menggugah agar menyimak perkara yang ingin diterangkan dan disampaikan. Juga di dalamnya terdapat pelajaran lain, yaitu pengulangan, dan akan datang pembahasannya nanti.

Kesimpulan:

  1. Mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran bisa dengan metode langsung dan bisa dalam bentuk tidak langsung.
  2. Cara meminta diam pada siswa, termasuk sarana paling efektif di dalam menarik perhatian.
  3. Guru boleh menggunakan metode panggilan secara langsung, seperti mengatakan, “Hai anak-anak, perhatikan!” atau, “Hai Fulan, perhatikan!” dan sejenisnya.
  4. Metode panggilan langsung bisa dilakukan di awal pelajaran dan bisa juga di tengah-tengah pelajaran.
  5. Cara yang bersifat tidak langsung membutuhkan kepiawaian guru, dan hal itu bisa dilakukan di awal pelajaran dan bisa juga di tengah-tengah pelajaran.

2. KONTAK PENDENGARAN DAN PENGELIHATAN ANTARA GURU DAN SISWA

Metode menyampaikan pada saat mengajar, atau metode menyajikan materi pelajaran menjelaskan adalah media paling efektif di dalam kontak antara guru dan muridnya, yakni suara guru memiliki keistimewaan kontak lebih banyak daripada yang lainnya. Barangkali ada yang menyanggah, “Apa pendapat Anda tentang kontak pandangan antara guru dan siswa?” Jawabannya dari beberapa segi: Pertama, kedua jenis kontak tersebut, yaitu pendengaran dan penglihatan, jika digunakan secara bersamaan dengan baik, akan memiliki pengaruh positif luar biasa di dalam mentransfer materi pelajaran, yang lebih baik dibanding jika salah satunya hilang dari yang lain. Kedua, kontak yang bersifat penglihatan adakalanya tidak terwujud pada keseluruhan waktu mengajar, contohnya jika siswa tunanetra. Atau pada sebagian waktu mengajar, jika siswa dalam kondisi tidak fokus, tidak memperhatikan, atau disibukkan dengan pekerjaan lain sehingga tidak memperhatikan pelajaran. Adapun kontak yang bersifat pendengaran akan tidak terwujud hanya dalam satu kondisi, yaitu jika siswa tunarungu (tuli). Karena itu, kita katakan bahwa kontak yang bersifat pendengaran adalah media paling efektif dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Kontak ini, yakni yang bersifat pendengaran dan penglihatan, membantu guru untuk menguasai dan mengatur kelas, dan sebaliknya membantu siswa dalam menghafal ilmu pengetahuan dan memeliharanya dari kelupaan. Di sini kita akan mengupas sebagian dari bentuk kontak pendengaran dan penglihatan yang akan membantu guru ketika menjelaskan di dalam menunaikan tugasnya mendidik dan mengajar dalam bentuk paling ideal, yang diambil dari jejak guru besar (Nabi Muhammad), semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau.

Pertama: Kontak Pendengaran, di antaranya:

A. Metode ceramah

1). Dari Aisyah, beliau berkata,

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ يَسْرُدُ كَسَرْدِكُمْ هَذَا، وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ

بَيْنِ فَصْلِ، يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ.

“Rasulullah tidak pernah berbicara tergesa-gesa seperti ketergesaan kalian ini, akan tetapi beliau berbicara dengan ucapan yang jelas dan lugas, bisa dihafal oleh orang yang duduk (belajar) kepadanya”.

Ucapannya …. مَا كَانَ رَسُولُ الله ﷺيسرد “Rasulullah tidak pernah berbicara tergesa-gesa…. يشود dengan mendhammahkan huruf ra, diambil dari kata الشرة yaitu berbicara bertubi-tubi dan tergesagesa. Maksudnya, Rasulullah tidak pernah menyambung pembicaraan secara tergesa-gesa, sebagian menyusul sebagian yang lain tanpa jeda supaya tidak samar atas orang yang mendengar…. Dan ucapannya, فضل “lugas” maksudnya jelas lagi nyata, antara satu kata dengan kata yang lainnya terdapat jeda.

Menyajikan materi pelajaran dengan cepat bisa membingungkan siswa, membuat pikirannya tidak karuan, dan menghalanginya untuk mengambil manfaat dari berbagai faidah dan permasalahan, yang berlalu secara cepat dan tidak sempat ditangkap oleh otak. Para guru banyak terjatuh ke dalam cara seperti itu, karena itu harus diperhatikan. Kebalikan dari cara itu adalah lamban yang sangat membosankan, yang dapat menyebabkan kantuk dan tidur, serta melahirkan bosan dan jemu pada siswa.

Cara yang paling tepat adalah memberikan jeda antara satu kata dengan kata yang lain, di mana antara kata yang satu dengan kata yang lain dipisahkan, tidak saling tumpang tindih supaya tidak merepotkan dan menyulitkan siswa. Begitu juga harus pertengahan dalam pembicaraan; tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat.

B. Tidak tasyadduq dalam ucapan dan tidak pula memaksakan bersajak

Tasyadduq adalah berbicara ngalor ngidul tanpa disertai kehati-hatian dan berjaga-jaga. Dan konon, al-mutasyaddiq adalah orang yang memaksakan diri dalam berbicara dan memper. mainkan kedua sisi mulutnya ketika berbicara. البدْقُ adalah sisi mulut. Memaksakan berbicara, mengucapkan perkataanperkataan yang asing, dan berlebih-lebihan dalam mengucapkan huruf-hurufnya adalah perkara tercela secara syariat serta tertolak dari segi akal, karena seseorang jika berkarakter seperti sifat ini, pasti merasa besar diri atas yang lain dan meremehkan mereka lantaran mereka lebih rendah darinya dalam hal ke vokalan dan kefasihan. Barangkali hadits Jabir dan hadits Abdullah bin Amr mencukupkan kita dari memperluas kata

dalam bab ini:

1). Dari Jabir, beliau berkata, Rasulullah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ، وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ، وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ وَالْمُتَفَيْهِقُوْنَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا التَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُوْنَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُوْنَ.

“”Sesungguhnya di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat posisinya dariku pada Hari Kiamat adalah kalian yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya, orang yang paling saya benci dan paling jauh posisinya dariku pada Hari Kiamat di antara kalian adalah ats Tsartsarun (orang-orang yang banyak berbicara), al-Mutasyaddiqun (yang memfasih-fasihkan diri), dan para Mutafaihiqun.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa ats-Tsartsarun dan al-Mutasyaddiqun, lalu siapakah al-Mutafaihiqun itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang takabbur”.
Dari Abdullah bin Amr, beliau berkata, Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلَّلَ الْبَاقِرَةِ

 “Sesungguhnya Allah membenci laki-laki yang berlebih-lebihan dalam kefasihan yang meliuk-liukkan lidahnya sebagaimana sapi mengotak-atik makanan dengan lidahnya. “

Al-Ghazali berkata di dalam Ihya Ulumuddin, “Memfasih- fasihkan perkataan, memaksakan bersajak dan bersyair, membumbuhi dengan puisi-puisi cinta dan berbagai basa-basi serta semua kebiasaan yang berlaku pada diri orang yang suka memfasihkan yang mengaku sebagai ahli pidato, adalah perbuatan yang tercela dan pemaksaan diri yang dibenci…,” kemudian setelah membawakan hadits-hadits dari Nabis, beliau berkata, “Akan tetapi, di dalam segala sesuatu, hendaknya dicukupkan pada tujuannya saja, dan tujuan berbicara adalah memahamkan maksudnya, lebih dari itu adalah perbuatan yang tercela. Memperbaiki kata-kata pidato dan peringatan tanpa berlebih-lebihan dan menggunakan kata-kata asing tidak masuk ke dalam hal ini. “Saya katakan, Ini biasa terjadi jika orang yang berbicara adalah orang yang mahir berbicara bahasa Arab. Akan tetapi, kita dilanda musibah dengan kehadiran orang-orang yang meremehkan bahasa mereka, lalu mereka memasukkan kata-kata yang bukan darinya, seperti ucapan sebagian mereka: Ok, yes, dan semisalnya. Mereka tidak membela bahasa mereka, dan tidak pula menepis bahasa musuh mereka!

C. Meninggikan suara (atau merubah intonasi suara) ketika mengajar

1(. Dari Abdullah bin Amr, beliau berkata, “Nabi ﷺ tertinggal dari kami dalam sebuah perjalanan kami, lalu beliau sampai kepada kami sementara waktu shalat telah tiba dan kami sedang berwudhu. Kami mulai membasuh kaki-kaki kami, lalu tiba-tiba beliau berteriak sekeras-kerasnya,

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ.

‘Celakalah dengan mendapat azab neraka bagi (pemilik) tumit- tumit (yang tidak basah),’ sebanyak dua atau tiga kali. “

Hadits ini oleh al-Bukhari diberikan bab dalam Shahihnya dengan judul Bab Man Rafa’a Shautahu bil Ilmi (Bab Orang yang Meninggikan Suaranya Ketika Menyampaikan Ilmu). Al-Hafizh berkata, “Pengarang berargumen akan bolehnya meninggikan suara ketika menyampaikan ilmu dengan ucapannya, ‘lalu tiba – tiba beliau berteriak sekeras-kerasnya.’ Berargumen dengan itu akan menjadi sempurna jika ada kebutuhan yang mengharuskannya, misalkan karena jauh, banyaknya orang, atau yang lainnya. Dianalogikan dengan hal itu jika hal itu adalah nasih sebagaimana di dalam hadits Jabir, ” Jika Nabi berkhutbah dan mengingatkan Hari Kiamat, amarah beliau naik dan suaranya menjadi tinggi…” dan seterusnya.” (HR. Muslim).

Dari pembahasan yang lalu, dapat diambil pelajaran; bolehnya orang meninggikan suara ketika mengajar pada saat menjelaskan permasalahan-permasalahan yang sangat penting sekali yang mengharuskan menarik perhatian orang-orang yang mendengar untuk mengusir kealpaan dan tidak konsentrasinya otak, dan mempersiapkan mereka untuk menerima apa yang akan disampaikan kepada mereka. Demikian juga, dapat dipetik pelajaran bolehnya orang meninggikan suara untuk mengingkari sebagaimana tertera dalam hadits yang terdahulu. Dan terkadang meninggikan suara bisa digunakan di tengah-tengah penjelasan, ketika guru hendak mengingatkan seorang siswa atau beberapa siswa tertentu sementara dia tidak ingin memutus pembicaraannya.

D. Sikap terus-menerus guru di dalam menyampaikan dan tidak memutusnya

Sebagian siswa kadang terpaksa menghentikan penjelasan guru untuk memperjelas sebuah poin yang rumit atau mengulangi penjelasan yang telah lewat. Adakalanya guru mengabulkan permintaan ini dan kadang kala tidak mengabulkannya. Sikap pengabulan guru ini mengandung beberapa bahaya:

Yang pertama, mengedepankan kehendak satu atau dua siswa dengan mengorbankan sekelompok besar siswa.

Kedua, memutus pembicaraan sebagian dari sebagiannya yang lain, padahal seharusnya disampaikan secara berkesinam bungan.
Ketiga, mengacaukan pikiran siswa dengan adanya pemo. tongan yang muncul ini.

Keempat, mengganggu pikiran guru sendiri dan memutus rantai pikirannya.

Dalam hal itu kita berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya, beliau berkata,

1). Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيُّ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ: أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟ قَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: فَإِذَا ضُيْعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Manakala Nabi sedang duduk berbicara kepada para sahabat dalam sebuah majelis, seorang badui datang kepada beliau seraya bertanya, ‘Kapan Hari Kiamat?’ Rasulullah tetap meneruskan pembicaraannya, sehingga sebagian sahabat berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya tetapi tidak suka terhadap apa yang dikatakannya. Sebagian yang lain berkata, ‘Bahkan beliau tidak dengar. Sehingga ketika beliau telah menyelesaikan pembicaraannya, beliau bertanya, ‘Mana orang yang bertanya tentang Kiamat itu?’ Dia berkata, ‘Ini saya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah Kiamat. Dia bertanya, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya? Beliau bersabda, ‘Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat. “
Cermatilah hadits ini, maka akan menjadi jelas bagimu apa yang kami katakan tadi. Di dalamnya terdapat tambahan, bahwa Rasulullah menjawab pertanyaan orang yang bertanya tersebut setelah selesai dari pembicaraannya. Dapat kita petik dari sini, bahwa tidak boleh memutus pembicaraan yang sifatnya bersambung, dan menjawab pertanyaan orang yang bertanya setelah selesai dari pembicaraan yang bersambung.

E. Diam di tengah-tengah menyampaikan (penjelasan)

Diam di tengah-tengah penjelasan guru memiliki beberapa faidah yang sangat baik untuk kita renungkan sebentar. Pertama, bahwa hal itu dapat menarik perhatian siswa, di mana seorang guru berbicara pada tema tertentu kemudian berhenti secara tiba-tiba, maka hal ini tidak diragukan lagi akan menarik perhatian orang yang mendengar. Kedua, bahwa hal itu memberikan kesempatan bagi guru untuk menarik nafas dan mengambil sedikit relaks. Ketiga, hal itu memberikan guru kesempatan menata idenya, dan itu adalah aktivitas otak yang tidak akan menghabiskan waktu kecuali beberapa detik saja. Barangkali hadits berikut akan mendekatkan apa yang kami katakan tadi:

1). Dari Abu Bakrah, dari Nabi muhamad

“Beliau bertanya, ‘Bulan apakah ini?’

Kami menjawab, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.

Maka beliau diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya.

Beliau bersabda, ‘Bukankah ini Bulan Dzul Hijjah?”

Kami mengatakan, ‘Ya, benar.’

Beliau bertanya, ‘Negeri apa ini?’

Kami menjawab, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.
Maka beliau diam hingga kami menyangka beliau akan menamainya dengan selain namanya. Beliau berkata, “Bukankah ini adalah negeri (Makkah)?’

Kami mengatakan, ‘Ya, benar.’

Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’

Kami menjawab, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.’

Beliau diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan selain namanya.

Beliau berkata, ‘Bukankah ini adalah hari an-Nahr (penyembelihan qurban)?’

Kami mengatakan, ‘Ya, benar.’

Beliau bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ – قَالَ مُحَمَّدٌ: وَأَحْسِبُهُ قَالَ: وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا.

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian – Muhammad (perawi hadits ini) berkata, ‘Saya kira beliau juga mengatakan, ‘dan kehormatan kalianadalah haram (untuk kalian ganggu), sebagai mana haramnya hari kalian ini, negeri kalian ini, dan bulan kalian ini, ….“Al-Hadits.

Anda bisa melihat bagaimana pengaruh diam beliau ini terhadap para sahabat serta bagaimana hal itu menarik indra dan perhatian mereka. Anda, wahai guru, bisa menggunakan metode dan cara ini di tengah-tengah penjelasan Anda untuk memisahkan satu poin dengan poin yang lainnya dan untuk bersiap-siap menjelaskan poin yang berikutnya.
Kedua: Kontak Pandangan, di antaranya:

A. Kontak pandangan yang berkesinambungan antara guru dan siswa

Memelihara kontak pandangan antara guru dan muridnya bermanfat sekali bagi guru dan anak didik. Guru mempertahankan para siswanya tetap tinggal di bawah kekuasaannya melalui pengawasan terhadap mereka dengan pandangannya, dari sana dia bisa memperhatikan yang malas lalu mengingatkannya, yang mengantuk lalu membangunkannya, yang bermain lalu mencegahnya, dan seterusnya. Karena itu, seyogyanya bagi guru agar mengarahkan pandangannya ke seluruh siswanya sehingga masing-masing siswa meyakini bahwa dialah yang dimaksudkan dengan pembicaraan. Jangan sampai dia lalai memperhatikan siswa-siswanya pada saat menjelaskan. Sebagian guru mengarahkan pandangannya hanya ke satu arah tertentu pada saat mengajar, tindakan ini salah, karena dapat menyebabkan hilangnya penguasaan terhadap para siswanya, dan dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk sibuk tidak mendengar dan menyimak pelajaran.

Dianjurkan agar tempat guru lebih tinggi walaupun sedikit dari anak didiknya supaya tercapai pengawasan yang baik dari arahnya, dan supaya siswa mudah mengikuti gurunya tanpa letih dan mengganggu teman-temannya yang ada di sekitarnya. Adapun siswa, melalui penglihatannya yang terus-menerus dan yang berkesinambungan kepada gurunya akan memberinya pemahaman yang lebih kuat terhadap pelajaran yang disampaikan dan yang dikatakan; karena bergabungnya dua indra, yaitu pendengaran dan penglihatan, akan lebih efektif di dalam menerima ilmu daripada hanya dengan satu indra. Kita dapat memprediksi sebab dijadikannya mimbar lebih tinggi, di mana mimbar beliau lebih tinggi dengan ketinggian tiga tangga, hal itu sangat cukup sekali di dalam pertukaran pandangan antara
khatib dan jamaah. Hal ini dijelaskan oleh hadits berikut;

1). Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata, “Seorang laki. laki datang pada saat Nabi ﷺ sedang menyampaikan khutbah kepada manusia pada Hari Jum’at. Beliau bertanya (kepadanya),

أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ؟ قَالَ: لَا ، قَالَ: قُمْ فَارْكَعْ.

‘Kamu sudah shalat wahai fulan?’ Dia menjawab, ‘Belum. Beliau berkata, ‘Kalau begitu bangun dan shalatlah’. “

2). Dari Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata, “Pada suatu hari Nabi duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekitarnya. “Dan duduk di sekitar khatib menuntut untuk melihatnya, demikian juga duduk di sekitar guru menuntut untuk melihatnya.

Hadits ini dibawakan oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya dan beliau telah membuatkan bab dengan judul Bab Yastaqbil al- Imam al-Qaum, wa Istiqbal an-Nas al-Imam Idza Khathaba (Bab Imam Menghadap Jama’ah dan Jama’ah Menghadap Imam Jika Dia Berkhutbah). Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan komentar, “Di antara hikmah mereka menghadap imam, adalah bersiap sedia untuk mendengar ucapannya dan menunaikan adab bersamanya di dalam menyimak perkataannya. Jika dia menatapnya dengan wajahnya dan menghadap kepadanya dengan jasad dan hatinya serta kehadiran pikirannya, hal itu lebih cepat untuk memahami nasihatnya dan menyesuaikan dirinya terhadap tujuan berdirinya imam untuk khutbah

B. Menggunakan ekspresi wajah

Banyak guru lalai dari cara ini dalam aktivitas mengajarnya, bahkan hampir-hampir tidak ditemukan ada yang melakukannya, entah karena kejahilannya atau lalai dengannya. Dengan cara ini, guru tidak butuh lagi menegur anak didiknya dengan menggunakan lisan atau mengulang-ulang ekspresi kepuasan dan perasaan lega terhadap perbuatan atau perkataan tertentu. Cara ini sangat efektif dipraktikkan kepada sekelompok orang, karena ada orang-orang yang cukup menegurnya dengan pandangan tajam dan tidak membutuhkan dengan menghardiknya dan mengomelinya, dan ada orang-orang yang lebih terpengaruh dengan senyuman dan muka manis daripada Anda katakan ke padanya, “Bagus kamu,” atau, “Ini bagus”, tanpa diiringi dengan ekspresi wajah yang menunjukkan terhadap perasaan lega dan suka. Dan ada orang-orang yang sama sekali semua metode itu tidak berpengaruh kepadanya. Maka hendaklah masing-masing dari mereka diberi perlakuan sesuai dengan kondisinya. Nabi kita dapat diketahui perasaan jengkel dan marahnya dari wajah beliau.

1). Aisyah berkata, “Rasulullah masuk kepadaku sementara di dalam rumah ada sebuah kain yang bergambar (gambar makhluk bernyawa. Ed. T.). Maka rona wajah beliau berubah, kemudian beliau mengambil kain tersebut dan mengoyaknya.” Aisyah bertutur, “Nabi bersabda,

مِنْ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُوْنَ هَذِهِ الصُّوَرَ.

Orang yang paling keras siksanya pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar ini ”

2(. Anas meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ melihat dahak (pada dinding) di arah kiblat. Hal itu terasa berat bagi beliau hingga terlihat di wajah beliau. Maka beliau bangkit dan meng. gosoknya dengan tangan beliau sendiri seraya bersabda,

إِنْ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ – أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ – فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ، وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ، أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ. ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيْهِ، ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ، فَقَالَ: أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا.

“Sesungguhnya salah seorang kalian jika berdiri di dalam shalatnya, sesungguhnya dia sedang bermunajat dengan Rabbnya atau sesungguhnya Rabbnya ada di antaranya dan antara kiblat maka janganlah salah seorang kalian meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi sebelah kirinya atau di bawah kakinya.” Kemudian beliau mengambil ujung sorbannya dan meludah padanya kemudian melipat sebagian pada sebagian yang lain seraya bersabda, “Atau . “

ia melakukan seperti ini Berkaitan dengan ucapannya, “hingga terlihat di wajah beliau”, al-Hafizh memberi penjelasan, “Maksudnya hingga dapat disaksikan pada wajahnya pengaruh rasa berat tersebut, dan dalam riwayat an-Nasa’i, ‘Maka beliau marah hingga memerah wajah beliau.’ Dalam riwayat lain karya pengarang (al-Bukhari), ‘Maka beliau marah terhadap orang-orang yang ada di masjid”, ”

Redaksi-redaksi ini keseluruhannya mengindikasikan bahwa amarah tersebut menumbuhkan pengetahuan yang pasti pada diri para sahabat bahwa perbuatan yang dimurkai Nabi adalah mungkar. Seandainya Nabi hanya diam dan tidak ada reaksi tambahan, niscaya sudah cukup di dalam mengingkari dan mencegah, akan tetapi beliau menjelaskan sebab amarah tersebut, karena beliau dalam posisi menyampaikan dan mengajarkan. Wallahu a’lam.

3). Adapun senyum, Jarir bin Abdillah al-Bajali bertutur, “Nabi tidak pernah melarangku (menemui beliau) semenjak aku masuk Islam, dan tidak juga melihatku kecuali beliau tersenyum di hadapanku. ”

Dan tidak tersembunyi kesan senyum tersebut terhadap Jarir bin Abdillah, semoga Allah meridhainya sertai menjadikan ridha.

Kesimpulan:

  1. Memperhatikan tujuan dalam berbicara di tengah-tengah penjelasan-, berbicara santai dan bersikap pertengahan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
  2. Maksud dari bersikap pertengahan dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa adalah tersampaikannya pelajaran kepada otak siswa dengan menghindari huru-hara dan keributan.
  3. Memaksakan kata-kata merupakan sifat tercela dari segi syariat, perasaan, dan akal.
  4. Memaksakan kata-kata dan menggunakan kosakata asing dapat menimbulkan kerenggangan antara guru dan siswa.
  5. Meninggikan suara pada saat mengajar merupakan mediayang sangat bagus di dalam menarik perhatian para pendengar dan untuk mengingkari.
  6. Memutus penjelasan dapat menyebabkan konsentrasi siswa buyar dan menghancurkan susunan pemikiran guru, serta merusak kaitan satu pemikiran dengan pemikiran lainnya.
  7. Hendaknya guru meminta para siswanya mengakhirkan pertanyaan mereka sampai dia selesai menjelaskan.
  8. Diam sejenak di tengah-tengah penjelasan memiliki bebe rapa faidah, di antaranya: Menarik perhatian siswa, kesempatan bagi guru untuk menarik nafas, dan menyusun pemikiran.
  9. Pertukaran pandangan antara guru dan siswa adalah faktor penting di dalam penguasaan guru terhadap anak didik. nya, serta membantu pemahaman siswa terhadap permasa. lahan-permasalahan dan ilmu-ilmu yang disampaikan kepada nya.
  10. Menggunakan ekspresi wajah di dalam mengajar akan membantu guru di dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.
  11. Memperhatikan perbedaan para siswa serta memperhati- kan kadar keterkesanan mereka terhadap ekspresi emosi-emosi ini, karena bagi sebagian mereka, ekspresi-sekspresi seperti ini tidak berguna baginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *